Category Archives: Mien R Uno Foundation

MRUF Bekerjasama dengan Akademi Berbagi Tumbuhkan Mindset Wirausaha

Mien R Uno Foundation & Akademi Berbagi Tumbuhkan Mindset WirausahaPada Rabu, 23 Februari 2011 Mien R. Uno Foundation (MRUF) bekerja sama dengan Akademi Berbagi (AkBer) membuat kelas entrepreneurship bertempat di kantor MRUF. Para peserta yang menghadiri berjumlah 50 orang yang sebagian besar berasal dari kalangan pekerja biasa. Acara dibuka oleh sambutan dari penggagas AkBer, Ainun Chomsun dilanjutkan dengan sesi penjelasan entrepreneur mindset oleh Indra Uno, Ketua Dewan Pengurus MRUF.

Pada kesempatan ini, pembicara awalnya memberi semacam kuis untuk membuka semangat dan jiwa wirausaha, dilanjutkan dengan pemaparan materi. Para peserta yang sudah memiliki usaha diberi kesempatan untuk sharing mengenai perjalanan usaha dan bagaimana kemudian memilih untuk berwirausaha.

Indra mengungkapkan bahwa keengganan untuk memulai usaha dikarenakan mindset yang salah seperti ketakutan akan mengalami kegagalan. Padahal wirausahawan pemula dapat belajar sambil menjalankan usaha dengan berjalannya waktu.

Pada sesi kedua, para peserta diberi kesempatan untuk bertanya, peserta yang sudah memiliki usaha bertanya terkait kendala dihadapi dalam mengembangkan usaha sementara yang belum memiliki usaha kebanyakan bertanya bagaimana memulai usaha. Pada sesi ini pula peserta lain memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat mengenai pertanyaan yang diajukan. Direktur Eksekutif MRUF, Nanang Suryanto ikut membantu menjawab pertanyaan dari peserta.

 

Kegiatan ditutup dengan informasi tentang kegiatan MRUF dan bagaimana peserta dapat menjangkau MRUF bila ingin belajar lebih jauh tentang kewirausahaan. Para peserta banyak yang meminta kelas lanjutan, terutama bagi mereka yang memiliki bisnis agar dapat berkonsultasi terkait pengembangan usahanya.  Sementara peserta yang sebelumnya tidak memiliki usaha tertarik untuk memulai usaha dan mengungkapkan kesan-pesannya mengikuti acara ini dengan memberikan komentar di akun  twitter MRUF. Dengan adanya kegiatan ini, MRUF menyebarkan semangat kewirausahaan pada kalangan yang lebih luas.

Titin, Pedagang Pakaian yang Kreatif

Titin Pedagang Pakaian Kreatif Mien R Uno Foundation

Melihat Teh Titin (34) sekilas, orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah pemilik empat kios pakaian di Pasar Tenjolaya Bogor. Dalam kesederhanannya, Titin adalah pelaku usaha kecil yang sukses dan pintar melihat peluang bisnis sekaligus tangguh. Tidak heran jika usahanya berkembang dan berjalan dengan baik sampai sekarang.

Dukungan fasilitas pembiayaan turut membantu usahanya dengan menambah barang yang dijual melalui kredit yang didapatkannya dari mitra Mien R. Uno Foundation yakni BMT Tadbiirul Ummah Dramaga Bogor, tanpa harus mengganggu cash flow usahanya. Dengan model penjualan kredit, perputaran uangnya relatif lambat, sehingga tambahan modal kerja sangat membantu Titin untuk memperbesar pasarnya.

Titin pernah mengalami pasang surut usaha, beberapa usaha pernah dijalaninya mulai dari menjual gorengan dan jajanan anak-anak dirumah, kreditan, sampai akhirnya menekuni usaha jual beli pakaian, usaha yang digelutinya sekarang.

Usaha ini telah menghantarkannya memiliki aset usaha sekitar Rp 80 juta diluar aset pribadi berupa rumah dan tanah. Usaha jual beli pakaian ini juga tidak langsung sebesar sekarang, Titin memulainya dari berdagang keliling kampung dengan sistem kredit.

Titin adalah sosok yang positif, melihat sesuatu secara jernih, bahkan masalah keluarga dapat menjadi sumber usaha. Suatu kali anaknya sakit demam, sehingga memerlukan jaket. Saat itu usahanya belum lancar, ia hanya memiliki uang Rp 7500. Berbekal uang pas-pasan ia menghampiri sebuah toko pakaian. Beruntung ada jaket yang dijual rugi, namun harganya Rp 15.000. Titin melihat jaket anak-anak tersebut bagus kemudian muncul idenya untuk menanyakan kepada pemilik toko agar ia bisa membantu menjual. Singkat cerita pemilik toko meminta Titin membawa semua jaketnya dan Titin menjual semuanya.

Jiwa wirausaha Titin sangat kental, sehingga ia selalu menangkap peluang yang ada dalam berbagai kesempatan. Dituturkannya, suatu kali dalam sebuah pengajian, ibu-ibu membicarakan munculnya alat penanak dan penghangat nasi. Ibu-ibu tersebut ingin memiliki namun tidak sanggup membayar kontan. Titin langsung menyanggupi untuk menyediakan alat tersebut, padahal ia belum pernah melihat barang yang dimaksud. Titin baru mengetahui wujud barang tersebut setelah datang ke toko. Dengan kepandaian negoisasinya, pemilik toko membolehkannya membawa 30 alat penanak dan pengangat nasi. Titin berani mengambil resiko karena sudah ada pemesan yang siap membeli alat tersebut.

Pernah suatu kali, Titin salah membawa barang kepada kelompok pengajiannya. Saat itu ibu-ibu memesan dispenser, namun karena belum tahu perabot yang dimaksud, ia membawakan sampel lampu senter yang digunakan jika listrik mati. Sampai saai ini, lampu tersebut masih disimpannya sebagai kenang-kenangan.