Category Archives: Artikel

Curbing Corruption while Promoting Business and Economic Growth

Seminar Bersama Prof. Robert Klitgaard

Bertempat di kampus S2 Paramadina, hari Rabu lalu saya mendapat suatu kehormatan untuk memberikan sambutan dan co-hosting bersama Bapak Anies Baswedan,  acara seminar bersama Prof. Robert Klitgaard yang bertema “Curbing Corruption while Promoting Business and Economic Growth”.  Sekilas mengenai Prof. Klitgaard, beliau adalah seorang pakar dalam bidang anti korupsi dan institutional reform. Prof. Klitgaard pernah mengajar sebagai Professor of public policy di Harvard University dan merupakan mantan rektor dari Claremont Univesity.

 

Acara ini dimoderatori oleh Bapak Cornelis Purba, wartawan senior The Jakarta Post. Berlaku sebagai pembicara adalah Prof. Klitgaard, Bapak Danang Widyatmoko-ICW, Bapak Deny Indrayana-Staf Khusus Presiden dalam bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme. dan Bapak Wijayanto-Paramadina.

 

Sebagai pembicara utama dalam seminar ini, Prof. Klitgaard memaparkan beberapa point penting yang menjadi salah satu penyebab utama terjadinya ketidaksetaraan di Indonesia. Berada di posisi ke-16 sebagai negara perekonomian terbesar di dunia, saat ini Indonesia tengah ‘bersinar’ layaknya primadona dibanding negara-negara  lainnya.

 

Berdasarkan Global Competitiveness Report 2010-2011 (dibandingkan dengan 139 negara lainnya di dunia) Indonesia mengalami kemajuan yang positif dan berhasil meningkatkan ranking dalam beberapa aspek, diantaranya :

 

  •  Ranking #44  dalam aspek overall competitiveness
  •  Ranking #30  dalam aspek kapasitas untuk inovasi
  •  Ranking # 20 dalam aspek pay and productivity,
  •  Ranking # 33 dalam aspek kontrol terhadap distribusi internasional,
  •  Ranking # 35 dalam aspek buyer sophistication
  • Ranking # 26 dalam aspek breadth of value chain,
  • Ranking # 28 dalam aspek  favoritism in decisions by Public Officials
  • Ranking # 30 dalam aspek wastefulness of Gov’t spending
  • Ranking # 36 dalam aspek beban dari peraturan pemerintah.

 

Kita patut bangga dan senang  karena dalam beberapa aspek tersebut, Indonesia dapat disetarakan atau lebih baik dari beberapa negara maju seperti Norwegia, Spanyol, Austria, Perancis, Kanada, Iceland, Singapore, Itali, Belgia, Hong Kong, Irlandia, Czech Republic, Denmark, Jerman, Amerika, dan  juga Cina, Brazil, India, Korea.

 

Tetapi ironinya dengan keberhasilan dan kemajuan yang dicapai Indonesia dalam beberapa aspek tersebut, GDP per capita Indonesia hanya mencapai $2329, dan menempati ranking #100 dari seluruh dunia (setara dengan Paraguay dan Sri Lanka).

 

Apa yang salah dari Indonesia? Ternyata dalam beberapa aspek, kita masih memiliki ‘nilai merah’ dan berada dalam ranking buruk yang harus segera kita benahi dan perbaiki, diantaranya:

 

  • Ranking #95 dalam aspek pembayaran tidak resmi dan penyuapan
  • Ranking #91 dalam aspek transparansi pemerintah dalam membuat peraturan/ UU
  • Ranking #89 dalam aspek kebijakan bea cukai
  • Ranking #103 dalam aspek legal rights protecting borrowers and lenders
  • Ranking #121 dalam aspek memulai atau membuka suatu usaha
  • Ranking # 98  dalam aspek perencanaan kejahatan
  • Ranking # 80 dalam aspek kepercayaan terhadap Polisi
  • Ranking # 99 dalam aspek etika perilaku dari suatu badan organisasi

 

Dalam beberapa aspek tersebut Indonesia setara atau lebih buruk dari Kambodia, Senegal, Guatemala, Syria, Mongolia, Zambia, Senegal, Nigeria, Bangladesh, Bolivia, Burkina Faso, Uganda, Zimbabwe, El Savador, Benin, dan Bulgaria. Sungguh menyedihkan bukan, ini merupakan suatu tamparan bagi kita agar segera membenahi dan memperbaiki semua permasalahan yang menghambat kemajuan dan kesetaraan Indonesia.

 

Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar dan terumit yang dihadapi Indonesia. Korupsi bukanlah suatu permasalahan yang baru, berbicara tentang korupsi, apabila kita flashback ke15 belas tahun lalu mungkin sangat sedikit kasus-kasus korupsi yang terangkat ke media, namun sekarang ini demikian banyak kasus korupsi yang terekspos ke seluruh media dan masuk ke pengadilan. Saat ini, untuk melaksanakan proyek-proyek tender, ditingkat birokrasi banyak sekali mengalami hambatan. Bukan karena ketiadaan dana, melainkan karena takut tersangkut kasus korupsi. Sedihnya, saat ini korupsi tidak hanya merajalela di top level, namun juga di grassroots level.

 

Apapun penyebab merajalelanya korupsi, kita dapat berusaha untuk memberantasnya dengan memulainya dari diri kita sendiri. Kita harus bersikap optimis bahwa kita juga dapat memerangi korupsi. Namun selain bersikap optimis tentu saja kita juga harus terus mencari solusi yang efektif agar permasalahan korupsi tidak sampai menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mari kita mulai berusaha untuk menerapkan ‘budaya malu’ atau shame culture. Sudah sepatutnya kita malu apabila bersikap tidak jujur, malu apabila bersikap diluar koridor hukum, malu apabila mencuri dan mengambil hak orang lain. Saya percaya bahwa jika kita melakukan perubahan positif yang dimulai dari diri kita sendiri, dan lingkungan terkecil disekitar kita, maka nantinya akan terjadi perubahan positif dilingkup yg lebih besar. Mari, kita berantas korupsi untuk menuju Indonesia Setara!

 

Rabu, 6 Juli 2011

Paramadina Postgraduate Campus,

Energy Tower, 22 Fl. SCBD

 

Tagged , , , ,

Indonesia’s real thing

Indonesia Real Thing Jakarta PostIt may seem too good to be true, but Forbes Magazine recently ranked this man, who celebrated his 42nd birthday on Tuesday, the countrys 27th richest person, with a net worth of nearly US$800 million.

While he comes from a middle-class family – his mother, Mien Rachman Uno is a popular businesswoman and his fa-” ther Razif Halik Uno used to work for Caltex oil company – Sandiaga Salahuddin Uno started his businesses from scratch, and made his” fortune in only 12 years.

Sandiaga joined the workforce straight after graduating from school in 1992.

In 1994, he worked for MP Group Holding Limited as an investment manager. In 1995, he moved to NTI Resources Ltd. in Canada and worked as executive vice president. Unfortunately, the 1997 monetary crisis hit NTI Resources Ltd. hard and left Sandi unemployed.

This prompted Sandi to return to Indonesia. Seeing no real future working for someone elses company, he decided to set up his own business. In 1997, he co-founded PT Recapital Advisors with his high school friend, Rosan Perkasa Roeslani, and in 1998, he co-founded Saratoga Capital with Edwin Soeryadjaya, another rich Indonesian featuring in Forbes list.

Twelve years later, Saratoga Capital is one of Indonesias largest investment firms employing more than 20,000 people.

In May 2011, he bought 51 percent of Mandala Airlines.

While most Indonesians in Forbes list amassed their wealth during the New Order authoritarian era or inherited their fortune from their parents, this father of two is the first Indonesian billionaire who made his fortune during the reform era, after the fall of Soeharto in 1998.

During this period, the ability to compete – rather than political connections – became the key to success.

He even beat many Indonesias big names, such as Ciputra, Mochtar Riady or Hashim Djojohadikusumo in the Forbes list.

Born in Rumbai, Pekanbaru on June 28, 1969, Sandiaga or Sandi Uno excelled at school. He graduated summa cum laude from Wich-ita State University in the United States in 1990, and two years later obtained a scholarship to further his studies at George Washington University, graduating with a GPA of 4 out of 4.

Yet, he remains modest and devoted to empowering his country-men. He is now known as one of Indonesias most active philanthro-pist, using his hobby of running to raise money for the needy, grooming farmers and small-scale enterprises while giving away money to finance these small businesses.

In a recent interview with The Jakarta Post, he didnt seem interested in talking about his achievements. Instead, he preferred to discuss the future of the country, expressing his concerns about everybody elbowing each other out of the way to accumulate power and wealth.

“We should change this culture [we have] of blaming and even knocking each other down, because in times like this, we should work together to reach our true potential. Although we are the [worlds] 16* largest economy, people dont feel it,” he said.

When asked what needed to bedone to advance the country, he said, “Indonesia already has many concepts, discours-es and masterplans. What we lack is execution. So. we have to just do it,” he said.

“I think we need to push through bureaucratic reform and law. Currently, the uncertainty legal matters as well as corruption hinder development, especially infrastructure projects,” said Sandiaga, who is married to Nur Asia and has two daughters Anneesha Atheera Uno, 13, and Amyra Atheefa Uno, 11.

In terms of education, for instance, he said national education had to be able to reach out to the business world, and provide what the industry needed.

“I support a move to encourage entrepreneurship in the school curriculum, which will encourage people to create new jobs. To become adeveloped country, we need 4 million new businesspeople by 2020,” he said.

During a recent interview with CNN, Sandiaga, who enjoys playing basketball, also expressed his concem about the countrys wealth being unevenly distributed, as around 40 million of the countrys

242 million people still live below the poverty line.

“Basically if we are not careful, the rich will get richer and the poor will get poorer. The gap [between the rich and the poor] will bring about the next unrest So we, businessmen, need to make sure the wealth ls spread more evenly,” he said.

Abdul Khalik

THE JAKARTA POST/JAKARTA

 

Tagged

Sinergi Anak Bangsa Untuk Kesetaraan

Kegelisahan yang sangat mengganggu benak saya akhir-akhir ini adalah soal mengapa bangsa ini masih lambat untuk meraih kemajuan? Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar, seharusnya Indonesia melesat masuk sebagai negara maju dunia.

Proses dan pengalaman yang dilalui dalam melakukan kegiatan sosial dan bisnis selama ini untuk sementara dapat menyimpulkan bahwa, salah satu penyebabnya karena sesama anak bangsa, satu sama lain kurang saling mendukung. Kecenderungannya senang saling menjatuhkan. Sepertinya kurang senang melihat kawan yang maju berkembang. Kadang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kawan.

Ironis, namun demikianlah faktanya. Ini terjadi utamanya dalam persaingan bisnis, apalagi politik.

Persaingan adalah sesuatu yang alamiah. Aturan bersama berupa hukum dan etika lah yang menjaga agar persaingan itu berjalan sehat dan terkendali. Jika tidak, hukum rimba terjadi, yang kuat yang menang, si lemah selamanya akan kalah. Karena itu, saya begitu fokus kepada sektor usaha mikro, kecil dan menengah. Karena si lemah harus dibela dan diberdayakan agar mampu berdaya saing, naik kelas dan setelah besar kembali ikut memberdayakan si lemah. Bingkai sinergi ini lah yang saya sebut sebagai proses transformasi dengan semangat kebersamaan demi kesetaraan.

Persaingan sehat mengandaikan sikap mental juara. Sikap mental juara dicirikan dengan kesanggupan untuk siap menang dan siap pula kalah. Pemenang tidak jumawa, yang kalah tidak merasa dikalahkan secara tidak fair. Persaingan sehat hanya ada dalam sistem yang sehat.

Bangsa ini harus membuat sistem yang sehat. Perangkat hukum dan etika bangsa ini sudah cukup untuk membangun sistem persaingan yang sehat. Kini yang dibutuhkan adalah penanaman nilai dan pelaksanaannya.

Persaingan sehat disebut perlombaan dalam kebaikan. Berlomba dalam kebaikan sangat dianjurkan. Sementara, persaingan tidak sehat sangat dilarang, apalagi jika kebencian ada di dalamnya. Kebencian dan keinginan untuk menjatuhkan kawan itu digambarkan akan memakan kebaikan seperti api yang membakar kayu bakar. Karena itu, janganlah gunakan segala cara untuk menjatuhkan kawan. Gunakanlah etika dan koridor hukum, sehingga semuanya dapat dinegosiasikan dan dicari jalan terbaiknya. Membabibuta penuh amarah hanya akan melahirkan situasi kalah.

Dari sisi ekonomi, persaingan usaha adalah fitrah natural modernisasi ekonomi. Namun sekali lagi, sejauh persaingan diatur dengan baik, akan melahirkan keadilan. Semua orang akan mendapatkan hak dari apa yang diperjuangkan dan kemampuannya masing-masing. Mereka yang berusaha lebih keras dan mampu mendapatkan lebih besar tentu berhak mendapatkan yang lebih banyak. Sementara yang berusaha alakadar dengan kemampuan biasa-biasa saja akan mendapatkan hak yang biasa saja.

Persaingan sehat dan sinergi indah tergambar seperti dalam permainan sepakbola tiki taka. Selain kekuatan individu, dalam tiki taka, keindahan permainan ditentukan oleh kerjasama tim yang sangat baik.

Karena itu, sinergi adalah harga mati jika kita ingin melakukan akselerasi dalam mencapai kemajuan. Mari berkolaborasi dan bangun kebersamaan dengan kesetaraan. Karena itu lah kunci bangsa ini menuju kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan.

Oleh: Sandiaga S Uno

Indonesia Perlu Banyak Expert Legal Opinion Produk Dalam Negeri

Pentingnya kepastian hukum akan menjadi masalah yang begitu penting dinegeri ini. Mengapa? Karena penegakkan hukum tidak hanya mempunyai aspek politis, tetapi juga aspek ekonomis. Hal ini saya sampaikan pada mahasiswa Fakultas Hukum UI saat menjadi dosen tamu dimata kuliah “Legal Opinion” pada hari Kamis 19 Mei yang lalu.

Diera bisnis yang semakin konvergen saat ini, dimana persaingan demikian ketat, kepastian hukum bisa menjadi salah satu penarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Nah, peluang ini harus dikelola sebaik-baiknya, jangan sampai dilewatkan begitu saja. Kepastian hukum juga mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dari segi bisnis. Jika tidak ada kepastian hukum, maka pasti ada pihak-pihak yang akan dirugikan haknya.

Indonesia saat ini menempati urutan ke 121 dari 174 negara menurut peringkat yang dibuat oleh World Bank  “Ease Doing Business 2011”. Kondisi ini membuat dunia usaha disektor formal belum tumbuh sebaik yang diharapkan karena kemudahan perizinan usaha masih tergolong sulit.  Untuk itu, perlu adanya revisi-revisi dan input-input dari para praktisi hukum untuk memecahkan masalah ini.

Kedepannya, kehadiran seorang legal expert niscaya akan menjadi sebuah kebutuhan. Bukan hanya bagi dunia usaha, tetapi juga dari sisi birokrasi. Agar dari kedua belah pihak dapat menghasilkan produk hukum yang benar-benar memberikan ketenangan bagi masyarakat luas.

Selama 15 tahun pengalaman saya menjadi seorang entrepreneur, beberapa kali kendala dengan kepastian hukum saya alami sendiri. Misalnya saja pembebasan lahan yang dilakukan tiga kali untuk lahan yang sama. Kalau dinegara-negara yang hukumnya sudah ajeg, tentu kejadian seperti yang saya alami tidak terjadi. Kalau pengusaha nasional saja merasa keberatan, apalagi investor dari luar negeri.

Terima kasih kepada Pak Kikie Ganie atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman. Besar harapan saya, 10 – 15 tahun lagi akan lahir praktisi-praktisi hukum kita yang diakui oleh internasional. Sehingga para pengusaha nasional tidak perlu repot-repot lagi sewa legal expert dari negara tetangga. Kalau kita sudah mampu, saya yakin Indonesia bisa setara. Dan saya yakin kita bisa setara.

Tagged

Perjalanan 15 tahun Recapital

Pada Tanggal 2 Mei 2011, Recapital tepat memasuki usianya yang ke-15 tahun. Usia yang ranum, usia yang matang jika diukur dengan usia anak remaja sekarang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, moment ulang tahun memang impian semua karyawan, karena pada moment ini kita semua bisa berkumpul dalam kehangatan, persahabatan dan kekeluargaan diantara rutinitas kerja yang padat dan serasa tak ada habisnya. Kali ini, pantai Senggigih Lombok menjadi pilihan Recapital merayakan moment berbahagia tersebut. Berakhir pekan di Lombok selama dua hari adalah tenggang waktu yang sangat singkat, namun tidak mengurangi kepuasan kami melewati indahnya kebersamaan bersama teman-teman. Liburan yang sangat menyenangkan.

 

Pada puncak acara di malam gala dinner, layaknya ritual perayaan ulang tahun lainnya, saya dan dua rekan saya pendiri Recapital, Rosan P. Roslani dan Elvin Ramli, berkesempatan untuk memotong cake anniversary diatas panggung. Diiringi tepuk tangan yang meriah, suara petasan kembang api yang menggema serta lagu happy birthday yang menghentakkan suasana tiba-tiba menggetarkan keharuan saya. Dulu, jangankan bermimpi untuk memiliki perusahaan sebesar ini, untuk membayar sewa kantor dan karyawan saja kami harus berjuang.

 

Seketika saya terbawa oleh nostalgia, masih sangat jelas dibenak saya ketika krisis moneter yang terjadi saat itu memaksa saya harus di PHK dan pulang ke Indonesia untuk mengadu nasib. Namun malang membawa berkah, di tanah air, Tuhan mempertemukan saya dengan Rosan sahabat saya sejak duduk di bangku SMU yang kebetulan sedang berjuang untuk eksis. Karena background kami sector keuangan, berbekal pinjaman dari orang tua, kerabat dan networking yang ada, terbersit dipikiran kami saat itu untuk membangun usaha financial advisory (penasehat keuangan), saat itu kami optimis bahwa banyaknya perusahaan yang butuh direstrukturisasi pasca krisis moneter kala itu akan membawa berkah bagi kami. Dengan modal nekad, akhirnya ide bisnis berhasil kami satukan lalu dituangkan kedalam satu konsep dan visi yang sama.

 

 

Pencapaian adalah buah dari pergulatan panjang…

Bermula dari kantor sempit di jalan Kuningan, dengan dibantu 3 orang karyawan dan peralatan kantor seadanya, mimpi itu akhirnya dilahirkan. Tahun-tahun pertama kala itu kami lalui dengan berbagai rintangan, sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien dan susahnya meyakinkan investor. Bahkan ada suatu periode yang cukup lama, enam bulan kami sama sekali tidak mendapat order. Giliran mendapat order, masalah lain muncul, klien tidak bisa membayar tagihan. Sampai terpikir dibenak saya saat itu apakah benar langkah saya menjadi pengusaha? Apakah memang mental saya lebih cocok jadi karyawan? untungnya pertanyaan itu bisa cepat ditepis dan tidak menggoyahkan tekad saya untuk terus maju, agar terus survive.

 

Di sinilah keteguhan dan loyalitas seorang entrepreneur diuji. Apakah dia loyal terhadap tujuannya menjadi entrepreneur. Tujuan saya waktu itu adalah survive dan kalau bisa sukses dan memberi manfaat yang lebih untuk sekitar dengan menciptakan lapangan kerja. Saya selalu berprinsip, jikalau kita fokus dan loyal pada tujuan kita, Insya Allah kita akan mencapai kesuksesan.

 

Kini, 15 tahun Recapital Group telah berdiri dan menawarkan solusi terbaik untuk masyarakat luas. Recapital Group yang kami dirikan dari mulai belajar merangkak, terjatuh, terbangun, hingga akhirnya bisa berjalan tegap menapaki dinamika bisnis, kini bisa berkembang menjadi perusahaan investasi yang agresif dan bergengsi di Indonesia. Saat ini, kami telah memiliki lebih dari 12 ribu jumlah karyawan, aksi akuisisi yang telah kami jalani juga kini menghasilkan belasan anak perusahaan yang bertengger dibawah naungan Recapital. Perjalanan 15 tahun dilalui penuh dengan tantangan, namun berkat semangat pantang menyerah, komitmen yang kuat, keteguhan hati untuk memegang amanah dan memberikan yang terbaik, serta teamwork yang solid, Recapital akhirnya bisa melangkah tegar.. Semua hanya bermula dari sebuah MIMPI untuk bisa survive..

 

Karena itu, saya mengajak semua generasi muda bangsa, mulailah berbuat saat ini juga. Saatnya merubah paradigma untuk menjadi pencipta lapangan kerja, tidak peduli apakah harus diawali dengan menjual kue, berdagang sate, ataukah bermodalkan keahlian internet saja. Dengan tekad yang berani dan tekun, kekuatan sebuah mimpi pasti akan terwujud. Sebuah batu yang ditetesi air sedikit demi sedikit, pada hitungan detik demi detik, hari demi hari, hingga bulan harus berganti tahun, pada saatnya nanti kita akan terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa sebuah batu bisa mencekung hanya karena setetes air.

 

Mari bersama-sama kita bermimpi, berkarya, mengejar cita-cita luhur dan berbuat untuk membawa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang setara.

 
Sandiaga S. Uno

Tagged , ,

Yuk Jadi Pengusaha

Dalam beberapa tahun terakhir sering saya dengar atau temui anak-anak muda yang mulai mendapatkan penghasilan tambahan atau istilahnya ?side job? dengan melakukan beragam hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mulai menjadi penerjemah buku, laporan tahunan perusahaan atau product manual dari beragam brand terkenal. Selain itu juga ada yang menjadi graphic designer atau ?konsultan? beragam kebutuhan perusahaan seperti disain, komunikasi, atau sebagai penyelenggara acara (event organiser).

Yang lebih mengesankan lagi semua itu dikerjakan dari mal, cafe, coffee shop atau internet cafe. Bahkan rumah dan warnet pun semakin ditinggalkan sebagai tempat bekerja. Yang menjadi klien mulai dari keluarga, sahabat atau kerabat dekat.

Banyak dari anak-anak muda tersebut yang masih menyelesaikan kuliah. Tidak sedikit juga yang baru mulai bekerja di perusahaan-perusahaan konsultan asing bergengsi di Jakarta dan Surabaya.

Sangat dinamis, sangat penuh gairah dan sangat cerah masa depan dari anak-anak muda tersebut. Kombinasi antara working hard, working smart dan playing hard semakin bergeser dari tren musiman menjadi gaya hidup.

Kalau keadaan ini terus berlangsung bahkan terus ditingkatkan, dapat dipastikan bahwa prospek bisnis dan perekonomian Indonesia juga semakin cerah.

Fenomena ini membuktikan bahwa banyak bakat yang tidak lagi terpendam yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Fenomena ini juga membuktikan bahwa generasi yang lebih tua atau setidaknya lebih senior semakin ?terbiasa? mempercayakan pekerjaan yang cukup penting kepada generasi muda yang minim namun haus pengalaman. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dan mencoba serta komitmen yang tinggi terhadap kualitas dan tenggat waktu.

Bagi saya dan rekan-rekan pengusaha muda, fenomena ini sangat kami syukuri. Bukan apa-apa, mereka dapat benar-benar memenuhi beragam kebutuhan usaha yang tadinya hanya dilayani oleh konsultan asing yang harganya tidak murah dan hasilnya sering kali kurang memuaskan. Walaupun masih bersifat informal, kompetisi sudah mulai tampak bahkan meningkat di antara para ?side-jobers?.

Mungkin tidak lama lagi sebagian dari mereka akan mulai mendirikan perusahaannya sendiri dan perlahan-lahan menjadi sekumpulan pengusaha muda yang kreatif, haus pengalaman dan tentunya haus akan keberhasilan. Saat itu, harga mereka tidak akan semurah yang mereka tawarkan sekarang.

Tapi tidak apa-apa. Lebih ?sreg? rasanya membayar agak lebih mahal kepada sesama pengusaha nasional yang masih muda-muda, dibandingkan perusahaan besar, apalagi perusahan asing. Mari menjadi juara di negeri sendiri. Yuk jadi pengusaha!

Sandiaga S. Uno

Tagged , ,

Shaping a Leader

Sabtu 2 April kemarin, saya diundang oleh Sekolah Tinggi Managemen PPM Jakarta untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa program S2 dalam seminar leadership yang mereka selenggarakan. Acara yang berlangsung dari jam 13.00 ini menyisakan kesan dan pengalaman berharga bagi saya, sesi yang saya bawakan ternyata mendapat antusiasme yang sangat tinggi dari peserta. Namun terlepas dari itu ada yang lebih menarik kali ini, karena topik seminarnya tentang leadership, saya jadi teringat dengan sosok inspiring leader sekaligus mentor saya selama ini, yaitu Om William Soeryadjaya. Hari ini tepat setahun sudah beliau pergi meninggalkan kita semua, namun prinsip memimpin beliau yang pekerja keras, ulet dan pantang menyerah untuk membangun bisnisnya masih membekas dibenak saya dan patut kita teladani, Om William sosok pemimpin visioner yang seakan mengerti ke mana arah bisnis akan bergerak 10 tahun kedepan.

Dalam seminar Leadership yang berdurasi kurang lebih dua jam tersebut, saya menyampaikan bahwa, sejatinya pemimpin yang patut menjadi panutan bagi pengikutnya adalah Ia memimpin dengan contoh, dan bisa menjadi katalis dalam lingkungannya. Om William sendiri bisa sukses karena peka terhadap lingkungannya. Belajar dari beliau, saya akhirnya memetik sebuah pelajaran dan mengajak semua pengusaha muda baru untuk tertantang mewujudkannya, bahwa tujuan utama mendirikan usaha bukan semata-mata hanya untuk menjadi terbesar dan mencari untung, tapi bagaimana agar usaha kita kelak bisa menjadi aset bagi bangsa ini dan berkah bagi lingkungan kita.

Di akhir sesi, seorang peserta bertanya, kok bisa saya sampai terjun kedalam model bisnis Private Equity? Menjawab pertanyaan tersebut, saya akhirnya mengajak peserta untuk ikut mengenang pengalaman pahit saya ketika memulai berbisnis 13 tahun silam. Klien saya saat itu meminta saya dan partner untuk merestrukturisasi perusahaan-nya yang sedang collapse saat itu. Dengan bekal pengalaman saya sebagai banker dan background saya sebagai accounting, akhirnya restrukturisasi kita jalankan dan berakhir sukses. Namun tidak hanya sampai disitu, invoice yang kami kirimkan ke perusahaan tersebut ternyata tidak dibayar dengan uang melainkan dikompensasikan dengan stationary kantor, mobil tua, dan saham. Walaupun awalnya cukup berat untuk kami terima, namun akhirnya kompensasi tersebut kami ambil. Mobil yang dikompensasikan tadi dijual untuk membayar karyawan, stationary kantor digunakan untuk operational di kantor, dan saham kami investasikan.

Inilah titik awal kebangkitan saya saat itu, saham yang tadinya kami anggap nilainya kecil ternyata terus berkembang hingga beranak pinak. Berbekal pengalaman tersebut, kami akhirnya mulai terinspirasi untuk merestrukturisasi perusahaan-perusahaan collapse dengan bayaran saham. Hari demi hari hingga bulan harus berganti tahun, lepas dari perusahaan yang satu, kami coba lagi perusahaan berikutnya. Hingga saat ini sudah puluhan perusahaan telah berhasil kami restrukturisasi dan alhamdulillah semua berbuah manis, sejak itu akhirnya bisnis ini menjadi model. Satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dalam cerita ini adalah “chance never knock at your door twice”. Kesempatan datangnya hanya sekali, jika ia datang, segera ambil dan kerjakan sekarang juga”. Saya yakin dan optimis, dengan mewujudkan prinsip kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas, Insya allah semua jalan pasti akan terbuka lebar.

Bangsa yang besar ini harus bermimpi besar, berencana besar, bertindak besar agar bisa setara dengan bangsa-bangsa besar lain.

Tagged ,