Persahabatan Dan Pekerjaan

Sudah 17 tahun lebih Recapital berdiri. Sebuah perusahaan investasi kecil yang dahulu kami rintis, tidak terasa sudah bermetamorfosis sedemikian rupa. Sebuah perjalanan panjang yang selalu kami syukuri sampai detik ini.

Perkenalan saya dan Rosan sudah sejak kami berusia 15 tahun,(kami sebangku selama 3 tahun di SMA Pangudi Luhur, Jakarta). Sedangkan Elvin adalah teman Rosan yang dikenalnya saat masih menjadi mengawali karir di sebuah perusahaan keuangan.

Tidak ada visi khusus yang kami siapkan saat dulu berkomitmen membesarkan Recapital. Hanya satu kesamaan tekad, ingin berdikari…berdiri diatas kaki sendiri.

Mungkin terlalu berlebihan kalau saya harus mengulangi cerita kembali, tentang status saya yang pernah kena PHK di Singapura akibat krisis ekonomi. Kondisi yang akhirnya memaksa saya dan keluarga kecil saya harus pulang dengan sisa uang minim disaku celana.

Perjalanan panjang bersama dengan Rosan dan Elvin, bukan tanpa tantangan. Up and down perusahaan lebih dari sekali dua kali berhasil kami lewati. Mereka adalah mitra dan sahabat yang tangguh untuk bisa diandalkan.

Tahun 2008,saat krisis keuangan global, kami sempat melepas beberapa asset perusahaan untuk dapat survive dan membayar operasional karyawan. Keputusan tersebut diambil melalui perdebatan panjang saat itu. Namun perdebatan bukan untuk memenangkan kepentingan pribadi, melainkan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan agar bisa membayar operasional karyawan, minimum 4 bulan kedepan.

“Doa karyawan itu sangat penting, gak perlu semuanya dikabulin. Dua orang aja doanya dikabulin,udah seneng kita,” Rosan seringkali mengingatkan kami tentang pentingnya doa dari karyawan-karyawan di group kami.

Tidak ada satupun dari kami yang pernah mengira Recapital bisa berjalan dan bertumbuh sejauh seperti sekarang ini, mungkin saja ini bukan karena kerja kami bertiga, tetapi doa dari para karyawan yang bekerja di group perusahaan.

Semoga hadirnya Recapital bisa memberi sumbangsih bagi Indonesia dalam arti yang lebih luas lagi. Mohon doanya agar Recapital suatu saat mampu bersaing dengan perusahaan investasi sekelas Temasek dari Singapura atau Khazanah dari Malaysia.

Untuk Rosan dan Elvin, terima kasih untuk persahabatan selama ini.

Yang Terbaik

Oleh: Sandiaga S. Uno

Sahabatku, tidak ada satu pun kejadian yang menimpa kita tak ada tujuannya (there is no coincidence in life). Keterbatasan pengetahuan lah yang menyebabkan manusia buta akan makna dalam setiap peristiwa. Hanya mereka yang berpikir dan terus meningkatkan ketawakalan karena mengimaninya, akan mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaan dan merasakan kebahagiaan di balik kesusahan.

Memang, tak semua dari kita yang menyadarinya, atau bahkan melakukan perenungan batin atas setiap kejadian yang menimpa. Padahal, perenungan dan berpikir adalah tugas mulia yang hendaknya manusia banyak melakukannya. Kenapa? Karena setelah itu, jiwa ini akan dibimbing-Nya untuk menemukan jawaban; dan iman pun semakin dikuatkan.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari Bangladesh, awal Desember 2012 lalu, kami mengalami peristiwa yang menyedihkan jika diukur dari keinginan manusiawi. Pesawat yang ditumpangi, ada sedikit kendala teknis pada mesin dan divonis tidak bisa terbang malam itu. Berpindah ke maskapai penerbangan lain adalah pilihan, padahal tugas menumpuk telah menunggu di Jakarta. Di saat jeda itu lah, suara adzan maghrib dari bandara memanggil dan shalat pun didirikan. Karena sedang di perjalanan, kami pun menjamaknya.

Bertegur sapa dengan sahabat yang berasal dari Bangladesh dan lama menetap di Amerika Serikat, adalah awal ceritanya. Seolah menduga kesulitan yang tengah dihadapi, sahabat yang duduk di samping kami itu pun bertanya: “Pasti Anda sedang ditimpa kesulitan,” ujarnya yakin.  Saya bertanya balik: “Kok bisa bapak bisa menebak?” dalam bahasa Inggris.  Lantas sahabat Bangladesh yang usianya sekitar 60 tahunan itu berkata: “Iya, saya bisa lihat dari wajah Anda, namun sayangnya manusia baru ingat Allah Sang Pencipta di kala tertimpa kesulitan”.

Yakinlah, bahwa segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, inti pesan dia.  Obrolan pun semakin hangat dan mendalam. Sahabat tersebut mengaku gelisah, kini berbagai aktivitas ibadah banyak yang dimudahkan atas nama rasionalitas dan kesibukan manusia. Dia pun mengaku khawatir, kelak, akan banyak ibadah yang ditinggalkan oleh umat Islam hanya dengan alasan Islam itu memudahkan. Padahal dari setiap gerak dan ritualitas itu, ada makna mendalam yang boleh jadi belum diketahui.

Melalui sahabat tersebut, Tuhan seolah mengingatkan kami  tentang pentingnya ketawakalan dan berprasangka baik kepada-Nya. Bukankah Tuhan sesuai persangkaan hamba-Nya?

Hanya berselang beberapa belas menit setelah adzan Isya berkumandang, panggilan dari pilot pesawat kami tiba dan perjalanan pulang yang awalnya terkendala, seizin Allah, ajaib dapat  kembali dilanjutkan. Tidak perlu berpindah maskapai, karena tentu akan sangat merepotkan.

Namun sepanjang jalan, jiwa ini mengiyakan, bahwa obrolan santai dengan sahabat tadi memberikan keteguhan batin, bahwa seburuk apapun yang dialami, jika  iman menyertai dan tawakal menjadi pijakan, selalu ada hikmahnya.

Pertemuan tadi seolah hendak menuntun kami untuk kembali mengingat makna kekhusyuan dan  pengutamaan ibadah kepada-Nya dibandingkan urusan lain. Agama memang tidak mempersulit, tapi bukan untuk dipermudah. Tidak boleh ada hal apapun yang memalingkan kita dari beribadah kepada-Nya.

Pertemuan itu pun sekaligus mengafirmasi bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Manusiawi, bila kita merasa sedih dan takut. Tapi ingatlah, sesungguhnya itu merupakan ujian. Sebentuk pengingatan bahwa ada kuasa yang melebihi kuasa manusia.

Tersenyum menghadapi seluruh peristiwa kehidupan, berprasangka baik kepada-Nya, bertawakal setelah berusaha keras, sertai doa ikhlas adalah jawabannya. Ingatlah, setiap saat limpahan rahmat-Nya terus mengaliri helaan napas kehidupan. Hanya karena Dia memberi kita sedikit ujian, pantaskah nikmat yang sangat besar itu kita dustakan?

Perjalanan ke Padang bersama Mandala Airlines

Setelah Mandala Airlines kembali beroperasi di bulan April 2012 dan memulai layanannya dengan penerbangan perdana dari Jakarta ke Medan; hari ini, 1 Desember 2012, Mandala kembali membuka route baru Jakarta-Padang dan Padang-Singapore.

Bersama teman-teman HIPMI Jaya dan team Indonesia Setara, hari ini kami menikmati penerbangan perdana Mandala Airlines ke Padang. Dengan pesawat Airbus A320 yang terdiri dari 180 tempat duduk dengan 30 baris membawa kami terbang dengan sangat menyenangkan. Acara yang dikemas dalam pesawat selama penerbangan juga dibuat sesantai mungkin, sehingga para penumpang lain bisa ikut bergembira dan  berbaur bersama kami. Jam 7.15 pesawat mendarat dengan mulus dan nyaman di Minangkabau International airport, setiba di bandara kami disambut langsung oleh Gubernur Sumatera Barat Bapak Irwan Prayitno, yang saat itu juga akan ikut penerbangan perdana Mandala route  Padang-Singapore.

Perjalanan dengan waktu  hanya 15 jam untuk mengunjungi Padang dan Bukit tinggi kami isi dengan sejumlah agenda yang cukup padat. Acara pertama dimulai dengan sharing session dan berbagi motivasi pada mahasiswa-mahasiswa Universitas Andalas. Kali ini saya tidak sendiri memberikan sharing session kepada mahasiswa, saya ditemani dengan sosok yang sangat saya kagumi dan menginspirasi banyak hal pada saya, yaitu Masril Koto. Seorang petani sederhana, tapi siapa sangka  Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani yang didirikannya kini berkembang dan melahirkan 600 LKMA yang tersebar di seantero Sumbar dengan aset mencapai 100 miliar.

Lebih dari 500 orang mahasiswa memadati ruang pertemuan kampus UNAND pagi itu, antusias para mahasiswa yang ingin mendengarkan cerita kami di awal merintis usaha tak bisa dibendung. Mereka sangat bersemangat bahkan rela berdesakan demi bertemu dengan sosok yang mereka idolakan. Ruangan yang begitu padat dan mulai terasa sesak hampir tidak terasa ketika peserta mendengarkan cerita dari sang maestro, Masri Koto. Tingkah dan kepolosannya bercerita tak jarang mengundang gelak tawa pada kita semua,  benar-benar lucu dan mengesankan.

Setelah selesai berbagi motivasi kepada anak-anak UNAND, perjalanan lalu kami lanjutkan menuju Bukit Tinggi.  Salah satu alasan kami menjelajah ranah minang adalah cita rasa masakan Padang yang dikenal dengan surganya para pecinta kuliner. Hmm yummy..  Setelah menyusuri pemandangan indah berbukit serta air terjun lembah anai yang menawan, rombongan lalu singgah di Rumah Makan Aia Badarun. Petualangan kuliner pun dimulai,  hidangan makan siang dengan beraneka macam masakan berempah khas dan gurih membuat kita lupa akan kenyang, benar-benar nikmat.

Setelah makan siang, kami lalu melanjutkan perjalanan mengunjungi LKMA Prima Tani yang didirikan Masril Koto. Di tempat ini, Masril Koto kembali bercerita tentang program yang dimiliki oleh LKMA Prima Tani.  Beberapa produk simpanan perbankan telah dimodifikasi oleh dia dan di-adopt ke dalam produk tabungan berjangka di LKMA-nya, seperti tabungan melahirkan, tabungan kawin, dan tabungan sakit. Saya langsung tercenung mendengarkan penjelasan Masril, sosok yang tidak tamat SD tapi bisa paham prinsip prudensial dalam mengelola lembaga keuangan. Yang menggelitik hati lagi adalah pengakuan Masril bahwa dia tidak membangun Lembaga Keuangan, yang dia bangun adalah Kekuatan Jaringan, alatnya adalah Lembaga Keuangan ini. Dan untuk bisa berkembang seperti sekarang kuncinya adalah bangun komunitas berkelompok, lalu kembangkan kapasitas diri. Itu saja, jelas dia. Sosok yang benar-benar menginspirasi dan layak disebut pahlawan. Iya, Pahlawan Petani.

Petualangan kami berikutnya adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah Bukit tinggi. Dimulai dengan Jam Gadang yang merupakan maskot kota Bukit Tinggi. Di salah satu sisi taman jam  setinggi 26 meter  itu juga terdapat istana Bung Hatta, sang proklamator, halamannya tidak terlalu besar tetapi sangat indah. Sementara dari sisi lainnya, di setiap sudut kota kita banyak menjumpai rumah dengan atap-atap rumah gadang berbentuk tanduk kerbau. Kami sempat mampir di salah satu rumah gadang terkenal di sana, di rumah ini pengunjung bisa menikmati ukiran minangkabau yang dipasang di dinding-dinding rumah. Ya, itulah Indonesia. Negara yang menyimpan kekayaan alam, kuliner dan budaya yang luar biasa.

Menjelang sore hari kami kembali ke Padang untuk mengejar penerbangan Mandala kembali ke Jakarta. Namun tidak hanya sampai di situ, tidak puas rasanya jika ke Padang tanpa mencicipi hidangan Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Makan malam pun kami habiskan di sini, keakraban dan kekeluargaan di antara kami semakin terasa menjelang balik ke Jakarta. Seakan moment seperti ini ingin terus berulang. Sungguh mengesankan.

Di akhir perjalanan setiba di Bandara Minangkabau, jadwal take off bergeser 10 menit dari yang direncanakan. Inilah tantangan berat kami sebagai bagian dari Management Mandala Airlines dalam mengelola standar pelayanan maksimal bagi penumpang. Dengan kondisi umum Bandara di Indonesia yang hanya memiliki satu landasan pacu sementara tingkat penerbangan yang padat melebih kapasitas, terutama di Bandara-bandara besar kadang menjadikan delay tak bisa terhindari. Tapi bagaimanapun kami sudah berkomitment,  hal itu tidak serta merta menjadikan alasan bagi kami untuk tidak meberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia. Perjalanan sejarah Mandala Airlines selama 45 tahun di Indonesia adalah warisan yang harus kami jaga.  Misi kami Saratoga Group sebagai pemegang saham mayoritas Mandala Airlines akan terus kami pegang, yaitu ingin memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan penyediaan penerbangan handal, dengan harga terjangkau, namun tetap mengedepankan rasa aman dan rasa nyaman.

 

Jakarta, 3 Desember 2012

Sandiaga S. Uno

 

 

 

Mari Hemat Energi

KEBIJAKAN hemat energi yang kembali dilakukan pemerintah idealnya bukanlah gerakan basa-basi. Jika sekedar basa basi, hanya akan menimbulkan antipati dan kebijakannya dianggap tidak pasti. Tentu saja, pemerintah dan rakyat lah yang akan rugi. Kebijakannya dari hulu hingga hilir, termasuk pengamanannya harus dipastikan terkendali dan terprogram semuanya.

Bukan sekedar jam dan pola kerja, kantor pemerintahan dan seluruh peralatan dan perlengkapan birokrasi yang harus dihemat, sebenarnya hemat energi harus menjadi gerakan bersama rakyat Indonesia. Sementara, gerakan penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi juga harus disertai pengawalan ekstra ketat karena rawan kebocoran. Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini banyak terjadi penyimpangan dan kebocoran dalam distribusi BBM bersubsidi.

Tentu saja, di daerah pun, seharusnya Rancangan Umum Energi Daerah sebagaimana amanat oleh UU no 30/2007 tentang energi dalam pasal 18 harus sudah ada dan diterapkan. Jadi, bukan hanya pemerintah pusat, daerah pun harus bergerak bersama. Sinergi ini jika tercipta akan sangat indah, melahirkan budaya pemanfaatan energi secara hemat.

Tidak ada jalan lain, pemerintah, pengusaha dan masyarakat secara luas harus menjadikan hemat energi sebagai budaya bangsa. Bukankah nilai-nilai agama kita semua menyebut bahwa berhemat akan membahwa kepada pahala dan boros dekat dengan dosa. Hemat energi harus dapat dilakukan. Kita boros dan dimanjakan oleh BBM murah selama ini.

Indonesia adalah negara yang pemanfaatan energinya masih boros. Data Statistical Review Of  World Energy 2004 dan IMF Monetary Outlook 2004 menyebut elastisitas pemakaian energi masih tinggi, mencapai 1,84. Sehingga untuk setiap pertumbuhan ekonomi diperlukan energi yang lebih besar. Setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen, pemakaian energi tumbuh 1,84 persen. Bandingkan dengan Malaysia yang relatif lebih rendah (1,69), apalagi jika dibandingkan dengan Jepang yang hanya 0,10, Kanada 0,17 dan Singapura yang hanya 0,73.

Sementara, kebutuhan energi nasional sangat besar. Tahun 2010 saja, dibutuhkan sekitar 740 juta Setara Barel Minyak. Padahal Indonesia bukanlah negara yang memiliki kandungan minyak bumi yang besar. Almarhum Prof Widjajono Partowidagdo – kebetulan saya kenal dari Mbak Ninasapti kolega saya di Komite Ekonomi Nasional – dalam forum Economist Talk Mei 2011  (sebagaimana dikutip buletin Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian volume 1 Nomor 5-Mei 2011) menyatakan bahwa ada anggapan keliru yang menyatakan  kita lebih banyak memiliki cadangan minyak bumi. Padahal yang benar adalah lebih banyak cadangan batubara, Bahan Bakar Nabati (BBN), CBM (coal bed methane), panas bumi, air dan sebagainya. Minyak bumi saja, cadangan terbuktinya 9,1 miliar barel, produksi per tahun 387 juta barel dengan rasio cadangan produksi 23 tahun. Batubara, sumber dayanya 58 miliar ton, produksinya 132 juta ton dan rasio cadangan produksi 146 tahun.

Pemerintah juga harus fokus pada diversifikasi dan konservasi energi. Perpres nomor 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional harus implementatif benar. Rencana tahun 2025 peranan minyak bumi dalam memenuhi konsumsi energi nasional tinggal 20%, gas bumi 30%, batu bara 33%, batu bara yang dicairkan 2%, bahan bakar nabati 5%, panas bumi 5% dan energi baru dan terbarukan lainnya seperti biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin peranannya menjadi lebih 5% harusnya dapat dilaksanakan sesuai target.

Sekali lagi, ini soal komitmen bersama. Membudayakan hemat energi perlu proses panjang. Bukan kebijakan simsalabim yang dapat langsung jadi. Perlu proses panjang, wacana, edukasi dan pembiasaan pada generasi muda juga keteladanan dari orang tua. Selain itu, dukungan regulasi yang tegas dan tidak saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya regulasi kepemilikan kendaran bermotor, pembiayaan kendaraan bermotor dan hemat energi harus sinergi. Konsumsi BBM akan terus meningkat jika kepemilikan kendaraan tidak dibatasi. Ini hanya salah satu contoh saja, banyak sekali kebijakan di sektor lain yang kerap berlawanan dengan kebijakan hemat energi. Termasuk aparat birokrasi banyak yang melakukan perjalanan dinas berlebihan, itu juga anti hemat energi. Semua pihak terlibat dan buatlah kebijakan yang tidak parsial. Karena jika setengah-setengah, terkesan pemerintah tak punya nyali, strategi apalagi inovasi.

Meski demikian, kita semua harus terlibat dan bertindak nyata. Saya di Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) pun bergerak dengan berbagai elemen masyarakat untuk menciptakan teknologi yang merakyat, hemat dan ramah lingkungan. Salah satunya Kompor bio-masa yang betul-betul transformative.  Intinya, ambil peran masing-masing dan bersinergi.

Dengan begitu, kita akan siapkan energi untuk anak cucu kita nanti. Jangan sampai kita meninggalkan bencana kehabisan energi untuk generasi mendatang. Marilah kita bersama menjadikan hemat energi sebagai budaya.

Tagged , , , , , , , , , , , , , ,

Bervisi Besar Berdompet Kosong

Bagian 1 Big Vision Empty Wallet: Mengejar Impact Bukan Uang

Banyak yang bertanya, “Bagaimana caranya menjadi orang yang superkaya?” Namun yang penting bukan menjadi orang kaya. Banyak yang menghubungkan Sandiaga Uno dengan peringkat dan kekayaan. Namun yang lebih penting adalah kontribusi yang ingin kita berikan kepada masyarakat, yang kita perjuangkan. Manfaat apa yang ingin kita wariskan bagi dunia. Suatu saat peringkat, kekayaan, saham, dan network tidak akan dapat memotivasi kita. Namun yang akan mendrive kita adalah impact, legacy, dan kontribusi yang akan kita tinggalkan bagi dunia.

Contohnya Soichiro Honda, apa yang sebenarnya Honda inginkan? Ia tidak menginginkan kekayaan. Ia bermimpi akan  personal mobility for everyone. Adanya kemudahan bertransportasi bagi semua orang. Semua orang lebih mudah untuk bertransportasi. Ia bermimpi mobil yang affordable bagi semua orang. Bukan hanya orang Jepang, tapi orang di seluruh dunia. Inilah visinya sewaktu memulai usaha sebagai pembuat mobil. Mulanya, mobil Honda selalu menjadi bahan tertawaan di Amerika. Mobil Honda saat itu merupakan mobil yang kualitasnya paling rendah. Namun ia tetap bertahan karena mobil inilah yang Honda inginkan, mobil yang affordable bagi semua orang. Dengan bertambahnya pengalaman, mobil Honda kualitasnya bertambah baik.

Contoh lainnya adalah Steve Jobs, visinya adalah computer for the rest of us. Steve Jobs ingin komputer yang mulanya barang mahal dan langka, yang ukurannya sangat besar, dapat dikecilkan menjadi kebutuhan semua orang. Komputer dapat membantu orang banyak dalam mengoptimalkan pekerjaan sehari-hari. Ia tidak pernah bermimpi market capitalization Apple lebih besar dari Microsoft, yang saat ini terjadi.

Senada pula dengan Tony Fernandes. Tony Fernandes tidak bermimpi untuk menjadi selebritis ataupun menjadi orang paling kaya di Malaysia. Namun saat ini dialah orang terkaya ke-12 di Malaysia. Mimpinya adalah membuat air travel affordable bagi semua orang Malaysia. Dulu, untuk terbang dari Kuala Lumpur ke Singapura membutuhkan biaya USD 300-400 per orang. Dengan konsep Air Asianya, Tony Fernandes membuat penerbangan bisa affordable bagi semua orang. Hingga sekarang dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa hanya USD 15. “Now Everyone Can Fly” Air Asia

Tony Fernandes Air Asia Boss

Saya sendiri memiliki visi Indonesia bisa setara. Walau memiliki banyak potensi, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, Indonesia masih diragukan, tidak dianggap setara. Yang mendorong saya dalam beraktivitas adalah Indonesia menjadi setara dalam hal potensi. Jika Saya mengejar kekayaan, saya hanya akan terus mengejar transaksi-transaksi berikutnya tanpa mau membagi ilmu.

Dari 4 tokoh tadi, yang dapat kita pelajari adalah “it’s the vision, not the money.” Jika kita dapat mendefinisikan visi kita dan konsisten dalam mengejarnya, uanglah yang nantinya akan mengejar kita.

 chase the vision not the money

Bagian 2 : Who’s Got Your Back

Setiap orang yang sukses memiliki seseorang yang berdiri di belakangnya. Figur inilah yang perlu kita cari, orang di belakang kita yang menginspirasi kita. Ibarat seorang anak kecil yang baru terlahir ke dunia, ia membutuhkan orang tua yang sudah puluhan tahun hidup di dunia untuk memberikannya petunjuk dan ilmu untuk berhasil. Untuk berhasil dalam bidang apapun kita harus memiliki guru yang bagus. Belajar Kung Fu ataupun belajar bisnis membutuhkan guru yang hebat. Berikut beberapa cerita tentang orang sukses dan peran orang-orang yang membimbingnya.

whos got your back

Siapa orang di belakang Apple?

Steve Jobs, pendiri Apple Computers dan Pixar Animation Studio adalah seorang anak yang serahkan ke lembaga adopsi anak karena ibunya masih kuliah. Kemudian ia diadopsi oleh keluarga kelas menengah dengan ayah yang tidak pernah lulus SMA dan ibu yang tidak lulus kuliah. Bagaimana orang yang memiliki latar belakang biasa-biasa ini menjadi seorang millionaire pada usia muda? Siapa orang yang berpengaruh dalam kehidupan Steve Jobs?

Untuk itu kita perlu melihat kembali ke masa remajanya. Saat ia masih di kelas 2 SMP, Steve Jobs (13 tahun) dan teman-teman satu kelompoknya mendapatkan tugas untuk membuat rangkaian elektronika. Salah satu temannya berkata “kita membutuhkan chip untuk membuat rangkaian ini. Chip ini hanya bisa ditemukan di pabrik HP (Hewlett Packard).” Keesokan harinya Steve Jobs datang ke sekolah dengan membawa chip yang mereka butuhkan. Sontak teman-teman satu kelompoknya pada kaget dan salah satu bertanya “Dari mana kamu dapatkan chip ini?” Jobs menjawab “Saya telepon Bill Hewlett dan saya minta kepadanya”. Temannya bertanya lagi “Darimana kamu tahu nomor telpon Mr. Hewlett?”. Dengan ringan Jobs menjawab “Ada di yellow pages”. Sore itu Steve Jobs menelpon rumah Bill Hewlett, pendiri Hewlett Packard bersama David Packard. Jobs dan Hewlett berbicara selama 20 menit dan Jobs tidak hanya mendapatkan chip yang mereka butuhkan, tapi Jobs juga mendapatkan summer job di pabrik HP. Ini adalah awal hubungan akrab antara Steve Jobs dengan Bill Hewlett dan David Packard. Ini merupakan cara yang cukup sederhana. Simple method, simple approach.

apple fathers

Jobs muda membuktikan bahwa kita dapat menembus batas jika kita mau. Kita dapat berhubungan dengan orang yang kita kira unapproachable. Hanya dengan membuka yellow pages dan meneleponnya. Untuk zaman internet ini kita bisa mengirimkan emailnya. Buatlah dia terkesan dan dia akan meluangkan waktu bagi kita untuk bertemu dengannya.

Tokoh yang berikutnya adalah Nolan Bushnell, CEO Atari. Pada saat Steve Jobs berumur 17 tahun, ia mendatangi kantor Atari. Sebuah perusahaan produsen game console kala itu. Kepada satpam yang menjaga kantor itu dia berkata ingin mencari kerja. Tapi karena penampilannya yang tidak rapi dan kurang meyakinkan, satpam tersebut mengusir Jobs. Steve memilih untuk duduk di trotoar hingga sore harinya. Kemudian akhirnya satpam tersebut menyerah dan pergi menemui Nolan Bushnell, pendiri Atari yang juga CEOnya. Satpamnya berkata “Pak, ini ada anak muda minta kerja”. Nolan menjawab “Suruh dia masuk”.

Nolan kemudian bertanya pada Steve Jobs “Kamu mau apa?”. Jobs menjawab “Saya mau kerja”. Nolan bertanya lagi “Kamu bisa apa?”. Jobs menjawab “Saya gak bisa apa-apa, tapi saya mau kerja”. Kata kuncinya adalah mau, Jobs mau kerja. Bushnell merespon “Ok, kalau begitu kamu jadi asisten saya saja”. Mulai saat itu Jobs menemani Bushnell ke mana setiap pertemuan-pertemuan penting dan menjadi sangat intim dengannya.

Kesuksesan Apple ada karena Apple tumbuh dengan memiliki 3 ayah angkat. Ayah angkat yang pertama adalah Bill Hewlet dan David Packard, mentor dalam bidang hardware. Lalu ayah angkat yang ketiga adalah Bushnell, mentor dalam bidang software. Jobs dan Wozniak memiliki akses terhadap ketiga orang tersebut, yang merupakan orang-orang terbaik di bidangnya.

 

Siapa orang di belakang Air Asia?

Penampakan pesawat Air Asia sangat mirip dengan pesawat Virgin Atlantic. Air Asia merupakan contoh yang sangat sesuai dalam mengaplikasikan ATM; Amati, Tiru, Modifikasi. Tony Fernandes mampu mentransformasi industri pesawat terbang tidak hanya di Asia, tapi juga di dunia. Ia membuat kita dapat terbang dari Kuala Lumpur ke Paris dengan biaya kurang dari USD 250. Ia membeli Air Asia hanya dengan USD 1 karena perusahaannya saat itu sedang bangkrut. Dia poles hingga Air Asia menjadi seperti sekarang ini.

Siapakah orang di balik Tony Fernandes? Dialah Sir Richard Branson. Fernandes pernah bekerja untuk Branson di Virgin Atlantic sebentar sebelum pindah ke Virgin Music dan mengabdi pada Branson selama 4 tahun.

 

Siapa orang di balik Saratoga?

Saya di-PHK tahun 97, saat krisis moneter terjadi. Saat itu saya tidak memiliki banyak pilihan sehingga akhirnya memulai usaha dengan sahabat saya, Rosan Perkasa Roeslani. Saat itu merupakan titik nadir kehidupan saya. Saking parahnya kondisi saat itu, jika saya melamar ke 10 perusahaan maka 15 perusahaan yang akan menolak lamaran tersebut. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mandiri secara keuangan, menjadi pengusaha. Mulanya kami menyewa ruangan berukuran 4×5 meter persegi di bilangan Kuningan, dengan 3 orang karyawan. Saat itu semuanya kami lakukan sendiri, mulai dari office boy hingga mengetik. Setelah 12 tahun menjalankan usaha, Alhamdulillah kami telah mempekerjakan 20 ribu karyawan. Yang membawa saya hingga sejauh ini adalah passion saya untuk memberikan manfaat. Untuk itu, kita tidak boleh lengah karena kesempatan hanya datang sekali. Kesempatan itu ada hanya untuk orang yang siap.

Di balik semua pencapaian ini, ada orang yang sangat berperan bagi saya. Dialah William Soeryadjaya, pemilik Astra. Sama seperti Steve Jobs, dulu saya merengek-rengek ke Pak William, yang saya panggil Om William. Waktu saya menjadi pegawai di Astra, Om William ini sangat menginspirasi saya. Visi Astra yang pertama sungguh menggugah hati saya, yaitu menjadi aset bangsa. Bangsalah yang ia pikirkan pertama kali, sebelum dirinya sendiri.

Ada kepedulian dalam diri Om William kepada orang-orang di sekitarnya. Saya masih ingat dengan jelas kejadian waktu tahun 98. Saat beliau menjadi mentor saya. Setiap sabtu saya mendapat waktu ½ jam untuk makan siang. Waktu itu terjadi kerusuhan di Tanah Abang,  sekitar kantor beliau mulai dimasuki penjarah dan dibakar oleh massa.

Seorang utusan dari kantor tersebut datang untuk melapor dan berkata, “Om, kita harus bersyukur. Ruko-ruko di sekitar kantor kita habis dijarah dan terbakar. Tapi hanya ruko Om yang tidak dijarah, tidak terbakar. Mungkin ini balasan atas kebaikan dan kebesaran hati Om selama ini. Ini perlu kita rayakan.”

Namun bukannya bahagia, wajah Om William saat itu memerah menahan amarah. Setelah semenit terdiam beliau menggeleng-geleng dan berkata, “kalian ini betul-betul keterlaluan, tetangga-tetangga kalian itu tokonya dijarah dan terbakar. Bukannya membantu mereka, kalian malah mensyukuri kantor kalian tidak terbakar. Kalian seharusnya memikirkan mereka. Ini bukanlah hal yang patut disyukuri, namun suatu panggilan agar kita melakukan lebih banyak hal untuk orang-orang di sekitar kita.” Inilah keseharian dari Om William yang menginspirasi saya dalam menjalankan perusahaan untuk lebih memikirkan manfaat apa yang kita bisa berikan kepada masyarakat. Menjadikan Indonesia Setara dibanding memikirkan cara membuat perusahaan kita menjadi lebih besar, dengan keuntungan lebih tinggi, ataupun meningkatkan peringkat perusahaan di kancah internasional.

Dari contoh-contoh tersebut, sebenarnya apa konsep dari pelajaran-pelajaran tersebut? Konsep tersebut adalah apprenticeship, atau mentorship, atau disebut juga ‘nempel.’ Konsep ini pernah dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf, waktu itu beliau ‘nempel’ dengan pedagang-pedagang yang lebih senior. Nabi Muhammad SAW juga ‘nempel’ dengan pedagang-pedagang yang sudah lebih dahulu sukses. Saya percaya bahwa konsep apprenticeship inilah yang mampu membuat seseorang mengupgrade dirinya dari pemula menjadi ahli. Dari yang tidak tahu apa-apa menjadi jago Kung Fu seperti di film Kung Fu Panda.

Mentor atau guru pembimbing betul-betul dibutuhkan. Saat belajar di sekolah, kita lebih mudah memahami pelajaran jika ada guru yang membimbing. Begitu pula dalam bisnis, kalau kita mencoba dan mentok. Pasti sulit jika kita memikirkannya sendiri. Namun jika kita memiliki mentor, pasti akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah yang ada.

 

Bagian 3 Big Vision Empty Wallet: Kunci Apprenticeship, Sekaligus Kunci Kesuksesan

Lalu kunci untuk menjadi apprentice itu apa? Bagaimana kita bisa mendapat mentor? Tampaknya sulit untuk meminta Bob Sadino ataupun Ciputra untuk menjadi mentor kita. Namun jika kita mau, saya yakin kita pasti bisa. Kunci dari apprenticeship ini sejalan pula dengan kunci kesuksesan. Inilah kunci dari apprenticeship:

 

Sir Alan Sugar

1. Kejujuran

Kita harus memiliki kejujuran. We have to be true to ourself, to be honest. Kita harus percaya bahwa kejujuran bisa membuka semua pintu. Contohnya saya sendiri, saya meminta Om William untuk menjadi mentor saya, “Om, saya ingin belajar, ingin berguru sama Om.” Om William bertanya “apa motivasi kamu?” Saat itu, setelah saya di-PHK, rasa percaya diri saya hilang. Dengan jujur saya bilang, “saya tidak memiliki percaya diri sama sekali. Namun ketika saya berada di dekat Om William, motivasi saya meningkat. Saya juga ingin menunjukkan sama orang-orang kalau saya dekat sama Om William.” Beliau menghargai kejujuran saya, “Oke, kalau begitu datanglah setiap sabtu. Kita makan siang sama-sama.” Sejak itulah Om William menjadi mentor saya.

 

Teddy P Rachmat sharing tentang Kejujuran

2. Kepercayaan

Trust is everything. Modal bisnis itu amanah, kepercayaan. Dengan reputasi yang baik, kita bisa mengukir prestasi. Jika kita dipercaya, tidak ngemplang, tidak ingkar janji, orang akan berbondong-bondong ingin berbisnis dengan kita. Kita harus mampu mengatakan tidak kepada yang neko-neko sambil tetap jujur, uanglah yang akan mengejar kita.

 

3.  Never give up

Seringkali kita hanya melihat sisi kesuksesan dari seorang pengusaha. Namun dibalik setiap kesuksesan, pasti ada kegagalan. Kegagalan itu menjadi keseharian dari seorang pengusaha. Saya seringkali merasa down ketika mengalami kegagalan. Namun saya selalu ingat akan cerita yang selalu saya ceritakan, saya baca berulang-ulang. Cerita Harland David ‘Colonel’ Sanders.

Colonel Sanders mulai usaha setelah dia pensiun dan resep KFCnya ditolak lebih dari seribu kali. Oleh karena itu, setiap kali saya gagal meyakinkan bank. Saya selalu bertanya sudah berapa kali saya mencoba. Jika jawabannya baru 10 atau 20 kali, itu belum ada apa-apanya dibanding Colonel Sanders. So, never give up.

 

4.      Think outside the box

Jika kita berpikir outside the box, anything can happen. Kita harus berpikir di luar kelaziman. Contohnya saat krisis terjadi. Saat krisis terjadi, umumnya orang-orang mencari payung dan berteduh. Namun jika kita think outside the box, akan terlintas bahwa di balik krisis pasti ada peluang. Saat kami membeli hotel, orang-orang takut membeli properti dan harga properti jatuh. Kita malah berani mengambil risiko. Kita beli, modifikasi, dan renovasi. Setelah 4 tahun, hotel ini menjadi lebih bagus dan harganya menjadi lebih tinggi. Jika tidak berpikir out of the box, kesuksesan hotel ini tidak akan terjadi.

Contoh lainnya adalah bisnis batu bara. Pada tahun 2000 ketika kami akan terjun ke bisnis batu bara, semua orang menertawakannya. Rumor yang ada saat itu industri batu bara akan kolaps, tidak ada yang mau menggunakan batu bara lagi. Namun kita berpikir out of the box, kami percaya bahwa pascakrisis negara dan industri pasti membutuhkan energi dan energi yang paling mudah didapat adalah batu bara. Saat akan memulai investasi, kami mengajukan proposal ke bank namun tak ada bank yang percaya. Oleh karena itu kami coba galang dana melalui teman-teman dan investor di luar negeri.

Tahun 2005, terbuktilah bahwa investasi ini tepat. Setelah ekonomi membaik, harga batu bara naik 4 kali lipat dibanding tahun 2000. Investasi awal kami sudah naik nilainya sebesar 80 kali lipat. Saat kami beli, Adaro Energy tidak masuk dalam 500 perusahaan terbesar di Indonesia. Namun kini, Adaro menjadi 10 perusahaan terbesar yang terdaftar di BEI.

Jika konsep out of the box ini diterapkan sembari true to the nature, tidak mudah dipengaruhi oleh rumor yang ada, insya Allah usahanya akan terlaksana.

Dengan kunci keinginan yang kuat, kejujuran, kepercayaan, pantang menyerah, dan think outside the box, kita akan dapat mendapatkan mentor yang kita butuhkan dan impact yang kita inginkan dari perusahaan kita pun dapat terlaksana.

Tagged , , , , , ,

Empat Tips Sukses Dalam Berwirausaha Bagi Mahasiswa Pengusaha

Sharing dengan Mahasiswa Pengusaha Penerima Beasiswa Mien R. Uno Foundation (MRUF) dari UI, IPB, UNPAD, ITS, UGM dan UNAND mengenai Rumus Sukses :

Perjalanan Recapital berawal dari ide pada tahun 96 dan kemudian mulai dijajaki tahun 97 sewaktu ada krisis dimana saya diberhentikan.

Dulu saya bercita-cita ingin menjadi seorang profesional dan betul-betul fokus memikirkan kelangsungan karir saya. Tapi, akibat krisis tahun 1997 semua yang saya bangun dalam karir saya dalam sekejap lenyap. Karena waktu krisis tiba-tiba hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, hal-hal yang tidak pernah direncanakan itu bisa terjadi. Singkat kata, walaupun karir saya baik, walaupun kita memegang teguh komitmen sebagai profesional, ternyata terjadi krisis dimana kita tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang terjadi.

Satu hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut bahwa banyak hal yang ada diluar kontrol kita. Kita mesti bersiap-siap dalam setiap kesempatan. Jadi resiko itu adalah bagian yang tidak terpisahkan baik kita sebagai profesional, terutama kalau kita sebagai entrepreneur. Jadi pengalaman itu saya terima dan memang jatuh terpuruk di krisis 97 memaksa saya untuk memusatkan diri kepada usaha yang saya dirikan ini.

Memang awalnya sangat-sangat sederhana, nggak mimpilah punya kantor seperti ini (Recapital Building). Dulu kantor yang kita sewa hanya seluas 8×10 meter di Kuningan, karpetnya berwarna pink dan banyak kaca-kacanya. Tidak terlihat seperti kantor. Saya tanya kepada partner saya Rosan, “Ini kok kita kantornya seperti ini? Tidak mirip kantor penasehat keuangan atau konsultan keuangan”. Kata Rosan “Memang ini dulunya bekas kantor modeling agency”. “Pantesan banyak kaca-kacanya untuk orang latihan menjadi model” ujar saya.

Sedihnya lagi, kita tidak memiliki pendanaan untuk merenovasi kantor. Jadi kita akalin waktu itu gimana caranya mengajak klien ke kantor kalau kita ingin menjual jasa kita? Karena begitu datang ke kantor kita dia pasti akan berfikir “wah ini sih gak bonafit. Punya kantor seperti ini ingin menawarkan konsultasi keuangan”.

Akhirnya kita cari akal, waktu itu kiatnya kita menjemput bola. Jadi kalau mau melakukan pertemuan itu selalu di kantor klien atau di tempat-tempat seperti di lobi hotel, restoran dan lain-lain. Jadi awal-awal kita sangat susah, jatuh bangun dan kadang-kadang memikirkan gaji karyawan yang ikut sama kita aja sangat sulit. Mulai dari ide, proposal, sampai mengantarkan surat ke klien itu kita kerjakan dengan sendiri dll.

Rumus sukses pertama yang saya ingin selalu sampaikan adalah Kerja Keras. Kita harus punya komitmen untuk melakukan suatu pekerjaan dengan 100% komitmen kerja keras. Namun tidak cukup kerja keras karena pada saat itu juga banyak sekali tantangan. Karena kita sebagai pengusaha muda yang tidak memiliki pengalaman, susah kadang-kadang bersaing dengan konsultan asing maupun konsultan-konsultan yang sudah terlebih dahulu menggeluti bidang konsultasi keuangan.

Akhirnya kita melakukan rumus kedua adalah kita harus Kerja Cerdas. Kerja Cerdas itu kita betul-betul menggunakan segala akal, pikiran, dan riset yang kita miliki untuk memberikan solusi kepada klien. Kalau misalnya bisnisnya food & beverages, kita harus menawarkan suatu solusi, misalnya seperti minuman yang enak namun sehat dan lain-lain. Apa solusi yang bisa kita berikan kepada pasar, kepada calon pengguna produk maupun jasa kita.

Dulu kita belum dipercaya, makanya orang sulit bayar dimuka. hal ini kita siasati dengan menawarkan kepada klien dimana mereka tidak perlu bayar didepan. Tapi bayar nanti kalau restrukturisasi keuangannya sudah selesai. Kadang-kadang mereka juga tetap tidak bisa melakukan pembayaran. Jadi kita kasih solusi cerdas. Kalau tidak bisa membayar dengan dana tunai, bisa dengan bentuk saham. Dari saham-saham yang kecil-kecil itu kita kumpulkan dan akhirnya menjadi bekal transformasi kita dari perusahaan konsultasi menjadi perusahaan investasi.

Nah itu hasil daripada kerja cerdas. Jadi awalnya kita memberi konsultasi kepada perusahaan batubara, pada saat akhirnya kita bisa memiliki saham diperusahaan batubara. Awalnya kita memberikan konsultasi di perusahaan infrastruktur, sekarang-sekarang ini kita memiliki saham di perusahaan infrastruktur. Jadi pilar kedua adalah kerja cerdas.

Pilar ketiga, yang selalu kadang-kadang dilupakan oleh pengusaha-pengusaha muda yaitu Kerja Tuntas. Finish what you started, kalau mulai sesuatu kita harus akhiri. Kita harus konkritkan, kita harus selesaikan. Kadang-kadang kita memulai sesuatu rencana itu kita giat diawal. Misalnya seorang entrepreneur itu kadang-kadang begitu menekuni sesuatu, terus lihat temannya yang bisnisnya lebih sukses misalnya penerbitan buku. “Wah kayaknya enak nih penerbitan buku”. Akhirnya usaha food & beveragesnya ditinggal dan ikut membuat penerbitan buku. Nah kerja-kerja yang tidak tuntas seperti itu akhirnya sangat-sangat tidak efektif dan tidak bisa menghasilkan sesuatu kinerja yang baik.

Kami fokus di bidang konsultasi keuangan, sampai detik ini kita fokus di bidang keuangan. Hanya memberikan solusi di bidang keuangan baik dalam segi investasi maupun dalam pengembangannya ke depan. Kita fokus pada upaya bagaimana bisa menggalang dana dari capital market atau pasar uang. Jadi selain kita fokus kita kerja tuntas. Apa yang kita awali ditahun 97 tuntas sampai sekarang.

Jadi kuncinya kerja tuntas itu kita harus mampu melakukan sesuatu dengan fokus dan profesional. Terakhir yang ingin saya share adalah pada ujungnya kita harus Kerja Ikhlas. Semua itu harus dimulai dengan niat yang baik dan pada akhirnya harus ada keikhlasan. Karena ikhtiar yang kita sampaikan ini akhirnya mungkin bisa membuahkan hasil, namun mungkin juga tertunda. Nah butuh suatu semangat keikhlasan.

Karena teman-teman kadang berkata “Wah saya sudah kerja keras, saya sudah berikan semua yang saya miliki tapi apa yang saya cita-citakan belum tercapai. Ini gak adil”. Yang kita kontrol itu adalah ikhtiar. Ikhtiar kita adalah memberikan 100% dan kita harus memberikan komitmen yang terbaik. Juga harus memiliki rencana yang baik. Itu ikhtiar yang kita kontrol. Tapi banyak hal yang diluar kontrol kita. Tapi saya percaya kan rezeki itu tidak pernah tertukar. Rezeki itu sudah digariskan untuk kita, yang kita bisa kontrol adalah bagaimana ikhtiar kita untuk menjemput rezeki tersebut.

Dengan 4 kiat tadi, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Kerja Ikhlas saya yakin apa yang kita jalankan juga akhirnya bukan saja membuahkan hasil. Tapi juga ketentraman bagi kita. Karena pada ujungnya kalau kita ikhlas, apapun hasilnya tentunya kita serahkan kepada Allah SWT. Saya beruntung usaha yang dimulai tadinya kantor kecil dengan karpet pink bisa bertumbuh seperti ini dan dari 3 karyawan sekarang sudah ada 20.000 karyawan yang bernaung di dalam grup kami.

Tapi satu hal yang tidak berubah, saya tetap makan 3 kali sehari. Saya tetap olahraga kalau pagi. Jadi buat kita sekarang adalah bagaimana kita memberikan manfaat yang terbaik. Rezeki itu begitu banyak diberikan kepada grup kita. Tantangan bagi kami pendiri dan pemegang saham maupun karyawan dan staf disini adalah bagaimana grup usaha kami itu bisa memberikan manfaat yang terbaik kepada komunitas kita, kepada bangsa kita, dan kepada rakyat Indonesia.

Sehingga mimpi kita bahwa Indonesia ini adalah negara besar, dan memiliki potensi yang besar bisa menyetarakan antara potensi dan realisasi bangsa ini. Jangan hanya Indonesia terkenal sebagai negeri 17.000 pulau. Negeri yang memiliki 240 juta rakyat dan populasi tetapi tidak memiliki kemandirian dan tidak memiliki kesetaraan.

Saya senang bisa kenal dengan 14 pengusaha mahasiswa terbaik Mien R. Uno Foundation yang sedang mengikuti workshop pencatatan keuangan sederhana. Saya yakin pasti kalau tidak ada 5 atau mungkin 10 atau 14-nya menjadi pengusaha yang sukses dan memiliki usaha yang harusnya lebih besar dari Recapital, karena kalian mulai dari mahasiswa. Saya dan Rosan baru mulai usaha itu baru di umur 28 tahun. Jadi teman-teman disini sudah mulai 5 atau 7 tahun lebih cepat daripada kami. Jadi mestinya harus lebih sukses daripada Recapital. Amin

Tagged , , , , , , , , , ,

Case Study Tower Bersama (Belajar Merger & Acqusition Bagian 4)

Artikel ini merupakan lanjutan dari Case Study Adaro Energy.


Perusahaan ini adalah perusahaan telecommunication tower yang kami mulai investasi di tahun 2004. Kalau kembali ke evolusi M&A berarti di fase kedua. Waktu dulu ide ini pertama kali bukan original ide saya, tapi ide pak Trenggono waktu duduk bersama di suatu panel. Pak Trenggono waktu itu mengintroduksi idenya tentang Perusahaan Indonesia Tower. Dia bilang “ke depan perusahaan operator telekomunikasi itu tidak akan mengkonstruksi dan mengoperasikan tower-tower (BTS) karena sangat mahal dan sangat keluar dari core sebagai operator.

Waktu itu saya duduk mendengarkan dia cerita dan waktu itu saya coba investasi di perusahaannya dia. Tapi pak Trenggono tidak tertarik. Jadi akhirnya kita mulai dari kecil banget. Waktu itu kita mulai dengan 7 tower yang kita ambil alih di 2004. Kita terus melihat bagaimana kita bisa mengembangkan bisnis ini. Tahun 2005-2006 kebetulan Mobile 8 pada saat itu melakukan penjualan daripada tower-towernya dan kami berhasil mendapatkannya sehingga mulai dari 7 naik menjadi 352 tower. Di tahun 2007-2008 berkembang menjadi 641 tower. Kemudian di tahun 2009-2010 akhirnya jodoh juga sama Pak Trenggono. Kita duduk dan akhirnya sepakat untuk bergabung sehingga membentuk Tower Bersama Group.

Jadi ini adalah gabungan antara Indonesia Tower dan Tower Bersama yang kita mulai di tahun 2004. Sekarang sudah ada 3100 tower dan tahun lalu di 2010 kami melakukan IPO dan sekarang nilai kapitalisasi pasar Tower Bersama Group itu sekitar 1,4 milyar dollar. Ini kebetulan yang kami tekuni dari mulai 2004 dengan 7 sites. Perusahaan ini dibangun dengan non organic growth yaitu dengan akuisisi dan organic growth dengan membangun sendiri tower.

Jadi kalau kita lihat ternyata di Indonesia ini dalam fase kedua kalau kita kerja dengan tekun, fokus, dan bisa melakukan penetrasi yang sangat efisien. Value itu bisa di create, nilai itu bisa dikembangkan dan ini kita juga memberikan kredit pada management team yang bekerja dengan susah payah dan tekun mengembangkan Tower Bersama. Sekarang ini tower bersama menjadi investment kedua terpenting dalam keluarga Saratoga.

Jumlah total tower di Indonesia itu hari ini ada 50.000 tower dan banyak sekali daerah yang belum tercover apalagi daerah-daerah terpencil. Perlu inovasi-inovasi terutama untuk daerah terpencil karena ada permasalahan yaitu kadang-kadang tower ini di daerah terpencil tidak bisa mendapatkan sumber listrik. Jenset kadang-kadang juga susah dan inovasi yang kita kembangkan sekarang adalah bagaimana mereka bisa nyala melalui tenaga surya.  Pada satu titik di tahun 2004, 1 tower itu kira-kira biayanya 1 miliar rupiah.

Saya ingin share 2 kisah sukses Adaro dan Tower Bersama agar bisa kelihatan bahwa investment itu bukan hanya plain vanilla kita beli terus kita duduk. Tapi harus beli dan betul-betul kerja dan turun tangan. Meeting-meetingnya Tower Bersama ini dilakukan jam 11 malam karena kesibukan saya mengurus HIPMI dan lain-lain. Jam 11 malam kita kumpul dan ada beberapa keputusan penting khususnya dengan inorganic growth, akuisisi dan lain-lain itu diputuskan malam sekali dan memang harus hands on dalam mengerjakan setiap investasi untuk mendapatkan keuntungan sesuai ekspektasi kita.

Di tower ini ada radio equipment, dan tower ini kita sewakan kepada operator-operator telekomunikasi agar mereka bisa menempatkan radio equipment mereka. Satu tower tidak hanya 1 radio, tapi bisa sampai 6 operator yang bisa menyewa di satu tower. Dulu setiap operator itu membangun towernya masing-masing sehingga di satu tempat bisa terdapat 4 hingga 7 tower. Betapa tidak efisiennya dan konyol. Jadi waktu itu kita melihat sangat wasting of resources dan ugly jika satu lokasi ada 5-6 tower. Misalnya suatu tempat di gunung udah cantik-cantik tapi ada 7 tower berdiri dan buat apa? Jadi merusak pemandangan. Rata-rata karena ego mereka operator bahwa kita harus punya tower sendiri. Dengan begini operator tidak perlu bangun tower sendiri, mereka bisa tumpangin tower milik kita. Sekarang sudah di tata ulang dan ada beberapa tower yang dirobohkan karena secara estetika kurang bagus.

Studi untuk lokasi pembangunan tower itu bisa dilakukan karena pengguna seluler sudah terpetakan. Ada cell system jadi bisa keliatan dimana lokasi yang bagus untuk dibangun tower. Kemudian kita kerjasama dengan komunitas setempat dan pemda daerah untuk mendapatkan IMB dan kemudian menawarkan kepada operator selular.

Pada waktu itu keadaan market lagi bagus di 2008, kita melihat bahwa perusahaan itu sudah mentok dari segi leverage liability dari loan dan fasilitas perbankan. Akhirnya diputuskan untuk melakukan IPO pada saat itu karena timingnya sedang baik untuk menggunakan hasil IPO tersebut untuk mengakuisisi proses produksi ini dan menurunkan jumlah pinjaman dari perbankan. Jadi keputusan itu diambil pada saat itu.

Untuk Tower Bersama waktu itu kita putuskan IPO pada tahun 2010 murni karena memang bisnis ini bertumbuhnya sangat-sangat cepat dan pada satu titik kita sudah tidak bisa lagi mendanai melalui perbankan dan equitas. Jadi kita melihat model-model perusahaan tower yang sukses diluar negeri itu akhirnya harus menawarkan sahamnya kepada public. Pada bulan oktober 2010 itu Burfa Efek Indonesia sedang mencapai titik tertinggi. Pada saat itu juga dengan eksekusi dan timing yang tepat kita lakukan IPO dan hasilnya kita gunakan untuk membayar hutang dan menyiapkan modal untuk ekspansi.

Jadi keputusan IPOnya itu diambil melalui proses decision making yang saya sebutkan tadi. Ini kalau tidak ada berkah Tuhan semua tidak akan ada yang jadi.

Jadi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memang tumbuh dengan fenomenal. Investasi 7 miliar sekarang dinilai dengan 14 triliun dalam jangka waktu kurang dari 7 tahun.

Nah ini adalah 2 transaksi yang berhasil (Adaro & Tower Bersama). Tapi saya tidak mau muna bahwa kita juga banyak yang gagal. Jadi saya ingin share juga things that did not work for us dan saya ingin share tapi tidak bisa sebut namanya tapi mungkin kalau melihat gambar-gambarnya bisa menebak.

Tagged , ,

Case Study : Adaro Energy (Belajar Merger & Acquisition Bagian 3)

Artikel ini merupakan bagian dari Belajar Merger & Acquisition dan lanjutan dari artikel Value Creation :

Fase pertama kami masuk tahun 2001,yang kita sebut sebagai buy low sell high. Waktu itu Adaro masih berproduksi 14-15 juta di tahun pertama. Tapi kita melihat bahwa sedikit sekali perusahaan batubara yang bisa di leverage dan bisa dikembangkan dari segi penambahan jumlah produksinya. Antara 2001 hingga 2005 ini Adaro mengalami suatu peningkatan produksi dari 2001. Tahun 2001 dibawah 20 juta ton sampai ke 30 juta ton di 2005. Waktu itu kita mapping permasalahannya kenapa waktu dulu itu Adaro tidak bisa berkembang.

Ternyata Adaro mengalami problem dalam 2 hal : Menangani urusan dengan komunitas disekelilingnya. Jadi banyak sekali demo. Banyak sekali interupsi dari mogok kerja dll. Akhirnya kita berikan suatu penanganan khusus kepada supplier dan kontraktor dan juga kepada masyarakat di sekitarnya bahwa we are all in one big family. Jadi problem di mereka akan menjadi problem di kita juga. Nah dialog-dialog ini terjadi diantara 2001 hingga 2003 dimana setelah bisa kita selesaikan kita bisa melihat kurva peningkatan dari produksi Adaro.

Jadi ini yang terjadi di 4 tahun pertama setelah kami mulai involve di Adaro dan grup Saratoga sangat-sangat fokus waktu itu bekerja dengan management, dengan employees, dan juga dengan komunitas lokal untuk meminimaze disrupsi dan semua hal yang berpotensi mengganggu produksi. Jadi kita bisa lihat 17,7 juta sampai dengan 20,7 juta bisa tumbuh hanya dalam jangka 4 tahun.

2005 cut off, ini yang kita sebut sebagai pre LBO. 2005 mulai fase kedua dimana kita nyatakan sudah tidak bisa lagi buy low sell high. Tapi kita harus lakukan konsep cosh cutting dan financial reengineering. Jadi kita lakukan LBO di tahun 2005, pak Tom Lembong, pak Patrick Waluyo, dan semua yang pintar-pintar itu kita rangkul. Dari transaksi 2005 ini lahirlah 2 private equity yang sekarang merajai industri private equity bersama-sama kita.

Jadi 2005 ini saya sendiri, Tom Lembong, dan Patrick Waluyo yang menangani akuisisi Adaro. Setelah itu lulusan dari transaksi ini membentuk Quvat yaitu Tom Lembong dan Patrick Waluyo membentuk NorthStar. Jadi transaksi ini melahirkan 2 pengusaha baru dan itulah tipikal Astra. Astra family, Pak William Soeryadjaja selalu bercerita kepada kita bagaimana caranya supaya seorang pengusaha itu bisa diukur sukses kalau dia bisa melahirkan pengusaha-pengusaha yang lain. Pak Teddy dan pak Benny juga sama gurunya adalah pak William.

Jadi ini post LBO, terus kita tingkatkan produksi hingga diangka 45 juta dan tahun 2008 kita lakukan IPO. Pada saat itu merupakan IPO terbesar dalam sejarah Bursa Efek Indonesia. Jadi ini case study bagaimana secara hands on sebuah perusahaan bisa ditingkatkan produksinya dan bisa diimprove dari segi keuangan.

 

Waktu kami ambil ditahun 2005 sebelum LBO, interest rate secara persistent turun dari interest rate Labor dari 450 business point turun ke 325 di tahun 2005. Di 2007 turun 200 point menjadi 120. Sekarang ada labor plus 120. Jika Indonesia jadi investment grade ini pasti akan turun lagi. Ini adalah bukti bahwa dengan bergabung dengan grup kami, kami bisa menurunkan biaya pinjaman atau biaya financing daripada perusahaan ini. Pada tahun ini jumlah daripada interest rate yang dibayar oleh Adaro lebih rendah dibandingkan interest rate yang dibayar oleh pemerintah Indonesia.

Jadi dunia investasi itu melihat bahwa Adaro sudah piercing the severancy link. Atap daripada republik itu sudah ditembus oleh  Adaro dengan financing di desember 2008. Investor melihat bahwa dengan berinvestasi di Adaro mereka merasa uang yang ditanamkan itu memiliki certainty yang lebih besar daripada berinvestasi di surat hutang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini disebabkan oleh 2 hal. Pertama perusahaan dan visinya kedepan. Kemudian kedua adalah manajemennya dan ketiga karena waktu itu batubara lagi betul-betul dilihat sebagai komoditas yang diperlukan dalam perkembangan industri di Cina dan India.

Waktu dulu belum pernah ada yang melakukan financing melalui Mezanin. Yaitu pembiayaan yang bukan equitas dan bukan juga pinjaman. Jadi ada ditengah-tengah dan kita pertama yang melakukan hal ini. Nah ini tentunya interest ratenya jauh lebih tinggi tapi memiliki kolateral yang jauh lebih rendah. Kalau murni debt itu biasanya bunganya 8%, kalo yang mezanin ini 17% dan kalau equiti itu bisa mencapai 25%. Karena ini mezanin returnnya juga diantara dan costnya diantara keduanya. Kalau pinjaman ini biasanya ada kolateralnya yang secure tapi kalau mezanin ini biasanya tidak ada kolateral. Tapi karena tidak ada kolateral jadi harus membayar bunga yang lebih tinggi.

Ini adalah proses deleveraging ke pembayaran hutang yang dilakukan secara kontinu. Tentunya relationship, network dengan komunitas keuangan itu sangat diperlukan untuk menghasilkan proses deleveraging dalam jangka waktu yang sangat cepat yaitu 3 tahun dan mendapatkan kompensasi dari penurunan suku bunga yang sangat signifikan.

Salah satu hands on approach yang kita lakukan adalah kita melakukan vertical integration untuk meningkatkan efisiensi. Jadi dari tambang Adaro ke kapal itu jaraknya sangat jauh. Dulu proses ini ditangani oleh beberapa kontraktor. Akhirnya kita lakukan investasi dari penambangan batubaranya, juga investasi dalam pengangkutan batubaranya menuju sungai yang jaraknya 80 km. Kemudian kita melakukan integrasi pada perusahaan yang melakukan pengapalan atau pengangkatan melalui tongkang sejauh 250 km antara Kelanis ke Taboneo ship loading. Kita juga lakukan investasi diperusahaan terminal pelabuhan batubara yang kita sebut sebagai Indonesian Bulk Terminal.

Proses integrasi ini kita lakukan dalam waktu 3 tahun dan meliputi semua major operation. Begitu kita melakukan vertical integration tiba-tiba kita mampu untuk mengontrol biaya produksi jauh lebih baik. Akhirnya sekarang Adaro achievementnya bisa disebut sebagai perusahaan batubara yang memimpin dalam hal mengelola cost dan efisiensi. Kita adalah perusahaan yang terefisien.

Pemilihan lokasi pelabuhan diselatan Pulau Laut dilakukan karena dia memiliki akses ke Jepang, Taiwan, dan pulau Jawa. Kita pilih lokasi itu karena letaknya strategis. Jadi ini yang kita lakukan dan Alhamdulillah bisa melakukan integrasi ini. Konsepnya adalah from Pit to Port.

Tagged , , , , ,

Value Creation dalam Merger & Acqusition, Hands on Approach (Belajar Merger & Acquisition Bagian 2)

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel Belajar Merger & Acquisition.

Di fase ketiga kita perlu Value Creation dimana kita menciptakan nilai dengan Hands on Approach. Ini mantra yang kita lakukan di Saratoga dan Recapital. Kadang kita sering dituduh sebagai Vulcure Fund, atau investor yang disebut sebagai investor burung bangkai. Jadi mencari aset yang lagi susah terus dicabik-cabik dan buy and breakup terus orangnya di PHK dll.

Saya sedikit share, selama Saratoga dan Recapital itu berinvestasi di 14 tahun terakhir ini jumlah pekerjaan yang kita buat itu lebih dari 20.000. Jadi kalau kita berinvestasi itu selalu melihat bagaimana meningkatkan kinerja daripada perusahaan yang kita investasi. Kalau kita meningkatkan kinerja itu berartikan butuh lebih banyak investasi, butuh lebih banyak employee, jadi itu job creation yang betul-betul kita perhatikan.

Ada 3 area yang kita fokus untuk key success factors buat Saratoga dan Recapital dimana kita lakukan penelaahan secara menyeluruh dan sangat-sangat detail.

  1. Operasional, ini adalah yang paling penting. Dalam kacamata seorang ahli keuangan itu kadang-kadang operasional itu tidak dimasukkan sebagai prioritas. Tapi di Saratoga dan Recapital, Operasional itu sangat penting.
    • - Jadi kita masuk dan establishing bagaimana secara operasi kita itu Good Corporate Governance. Ini yang sangat penting untuk monitoring sistem. Sebuah perusahaan atau investasi itu tidak akan mungkin bisa maju dan berkembang tanpa reporting system dan governance system yang ada dalam perusahaan.
    • - Meleverage networking Saratoga dan Recapital itu sendiri. Jadi kadang-kadang banyak sekali pada suatu kesempatan kita melakukan investasi dan pada hari pertama kita melakukan investasi, tiba-tiba ongkos dari pembiayaan mereka bisa turun karena gabung dengan network kita. Ada perusahaan yang kita akuisisi selama ini meminjam dengan suku bunga 13%. Hari pertama kita invest, hari kedua ia bisa melakukan refinancing pada hutangnya itu dan bunganya bisa turun 3-4%. Karena kredit ratingnya meningkat.
  2. Finance, kita melihat bagaimana memanage cashflow lebih baik, bagaimana refinancing strategies yang sudah saya sebutkan tadi. Kadang-kadang kalau melihat neraca itu kita bisa tahu bahwa neracanya ini malas, atau rajin. We called lazy or very active balance sheet. Kadang-kadang neraca itu terlalu banyak hutangnya. Jadi kita harus kurangi hutangnya. Kadang-kadang neraca itu terlalu banyak equitynya. Equitynya terlalu banyak berarti manajemennya terlalu tidur atau terlalu nyenyak. Jadi kita bangunin, kita tambahin utangnya supaya lebih berkeringat.
  3. Human Resources, saya beruntung pernah gabung dalam grup besar Astra dan PDCA dalam konsepnya Pak Teddy. Mungkin bisa ditanya pada pak Teddy konsep tentang Astra View yang PDCA yaitu Plan Do Check and Action. Jadi ini sama di Private Equity juga ada PDCA yang merupakan infinite look yang selalu kita kerjakan jadi sebuah siklus yang terus berjalan.

Artikel selanjutnya Case Study Adaro Energy.

Tagged , , , , ,

Belajar Merger & Acquisition Bagian 1

Evolusi Buy Out dan Strategi Merger & Acqusition

Fase Pertama (1998 – 2003)

Jadi waktu saya ketemu pak Widja tahun 2000, usaha kami baru berjalan kurang lebih 2,5 sampai 3 tahun. Ini fase pertama dari buy out M & A strategies dari Indonesia. Dimana kita baru terbentur krisis, dan kita melihat bahwa Indonesia dalam keadaan betul betul pancaroba. Jadi kalau kita ingat pada saat itu aset-aset yang bagus bagus itu ada di BPPN atau IBRA (Indonesian Bank Restructuring Agency).

Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang harus menjual asetnya untuk survival mereka. Jadi ini yang pertama kali terbesit waktu saya pertama menjadi pengusaha itu kan memberikan financial advice. Financial advice kami diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang waktu itu kesulitan keuangan, tidak memiliki kemampuan untuk merestrukturisasi balance sheet atau neracanya. Akhirnya mereka harus mencari capital.

Nah waktu itu capital itu sulit sekali. Indonesia itu bukan seperti sekarang dimana kita memiliki GDP perkapita 3000 dollar, tahun ini 3100 malah. Indonesia waktu itu keadaannya adalah perubahan sistem demokratisasi. Kita masih melihat banyak sekali demo-demo di jalan. GDP perkapita kita 600 dollar perkapita.  Kita lagi melakukan proses desentralisasi dan demokratisasi. Ada seorang ekonom ketemu saya pada tahun itu sekitar tahun 2000an gitu waktu fase pertama ini, bahwa dia bilang “A Country with a full-fledged democracy and sub 1000 dollar GDP Percapita will not make it”. Prediksi dia Indonesia akan “balkanize”, suku-suku itu akan terpecah pecah dan pulau itu akan merdeka dengan sendirinya.

Jadi itu potret Indonesia di tahun 97-98 sampai 2000. Konsultan tersebut membekas sekali advicenya kepada kami. Tapi saya bilang gak mungkin. Tapi dia bilang “lihat saja India, Filipina, itu kan full-fledged democracy gak akan kemana-mana. Akhirnya rakyatnya miskin dan negaranya tidak memiliki prospek yang baik.

Sepuluh atau fast forward tiga belas tahun kemudian, Indonesia berada di posisi yang primadona. Nomor 16 ekonomi terbesar di dunia. Member of G20, ketua ASEAN dan banyak yang menyebut CHINDONESIA (China, India, Indonesia) akan merubah wajah perekonomian dunia. Jadi saya lagi cari ekonom itu sekarang ada dimana, karena advice dia waktu itu ngawur sekali. Atau dia sudah pindah profesi, saya hanya mau ingatin klien-kliennya dia untuk tidak terlalu mendengarkan nasehatnya. Tapi kapital saat itu sulit sekali karena konsultansi dari pada orang-orang seperti dia. Tidak ada orang yang mau menanam uang di Indonesia saat itu. Konsultan itu dari IAU.

Kalau kita dulu punya uang atau source of capital, kita punya akses kepada large scale of funding. Wah udahlah kita tidak akan ada kompetisi. Waktu dulu salah satunya yang aktif adalah firm pak Widja yang dulu. Mereka melihat oportuniti itu. Faralon Capital bersama Djarum Grup melakukan beberapa akuisisi salah satunya BCA, Jardine Cycle & Carriage mengakuisisi Astra International, Temasek mengakuisisi Danamon, dan beberapa transaksi yang besar. Itu adalah Phase one, motonya itu adalah “Buy Low Sell High”. That’s how you make money. Gak perlu mikirlah, beli aja tunggu 3-4 tahun jual pasti untung berlipat ganda. Faralon melakukan itu BCA, Temasek melakukan itu di BII. Dia beli BII murah dan dia jual  , dan juga di Indosat dilakukan transaksi seperti itu. Itu adalah Fase Pertama.

 

Fase Kedua

Setelah itu di 2004, Indonesia mulai membaik secara ekonomi dan secara perspektif dunia internasional mulai bisa menerima bahwa Indonesia itu, saya ingat sekali waktu saya nge-bid BCA bersama firmnya pak Widja ini. Investment Committee dari investor-investor kita bilang Indonesia itu Al Qaeda Country. Itu adalah sarang dimana Al Qaeda berkembang dan Indonesia itu negara fundamentalis. Jadi setelah di 2004 dunia sudah melihat Indonesia tidak terlalu ngawur-ngawur amat. Masih bisa ditolerir. Jadi 2004 hingga 2007 mulai fase kedua. Bahwa tidak bisa lagi beli murah karena sudah tidak ada lagi aset yang murah. Kita harus bisa melakukan suatu rekayasa keuangan atau financial engineering dan restruturisasi ongkos produksi melalui cost cutting.

Nah ini bisa kita lihat salah satunya di Adaro Energy. Adaro dilakukan transaksi oleh Saratoga pertama kali di 2001, Buy Low Sell High. Kita beli dengan harga waktu itu relatif murah karena lagi pada distress. Tapi pas tahun 2005 kita melakukan leverage buyout dengan Faralon, JIC, dll itu udah gak bisa lagi beli murah. Karena harganya itu sudah USD 1 milyar pada saat itu.

Fase kedua ini diperlukan ketajaman melakukan rekayasa keuangan dan juga bagaimana membesarkan perusahaan walaupun dengan suatu ongkos produksi yang terus di tekan dengan cost cutting. Pak Widja “Jadi bisa diartikan dulu itu siapapun yang punya capital bisa dapat untung. Karena buy low sell high?” Gak perlu mikirlah dulu. Dulu gak perlu terlalu banyak mikir, beli aja pasti akan dapat keuntungan. Tapi di fase kedua ini sudah mulai banyak yang punya akses terhadap kapital. Saya masih ingat itu menjamur perusahaan-perusahaan yang datang kesini bawa capital dan mulai bersaing dengan kita.

Jadi karakteristik dari fase kedua ini harus bisa mencari funding yang paling murah. Waktu itu kami adalah salah satu grup pertama yang bisa mengakses bank funding dengan katagori murah. Salah satunya adalah MGTI yang support oleh pak Widja. Waktu itu pak Widja di ABN AMRO. Transaksi pertama setelah krisis yang dibiayai melalui bridge dan leverage recapital.

Jadi ini adalah cheap funding yang betul betul menjadi karakteristik daripada transaksi di fase kedua sampai tahun 2007. Nah disini nih merupakan golden period (2004-2007) untuk buyout. Kita lihat banyak sekali transaksi. Salah satunya Adaro, Indosat, dan transaksi-transaksi lain yang waktu itu betul-betul sangat-sangat sering. Frekuensinya itu bisa 3-4 kali dalam sebulan.

Kadang-kadang kita selalu bilang bahwa fase kedua perlu mikir dikit tapi tetap saja kita bisa mendapatkan return yang menarik tanpa terlalu meng-employ suatu decision yang begitu tajam.

 

Fase Ketiga

Fast forward ke 2008, Global Financial Crisis terus masuk ke 2011. Ini fase ketiga. Pada saat ini Indonesia sekarang masuk dalam kategori hampir investment grade. Mungkin akhir tahun ini atau awal tahun depan. Semenjak krisis kita belum pernah investment grade. Tapi begitu kita masuk ke investment grade tiba-tiba harga perusahaan, harga saham, harga properti, harga semua aset yang ada di Indonesia akan naik dengan sendirinya. Karena dengan investment grade itu Indonesia bisa disetarakan dengan negara-negara lain di Eropa atau negara-negara maju lainnya. Berarti Indonesia sudah graduate dari low income, ke middle income, dan sudah masuk ke kategori yang layak di investasi.

Nah gak bisa lagi ada aset yang murah, tidak ada lagi aset yang hanya direkayasa keuangannya. Tapi kita sekarang mulai melihat bahwa harga aset itu sudah semakin tinggi. Nah kuncinya waktu itu saya tanya ada beberapa investor yang berinvestasi di Indonesia dan sangat agresif. Saya tanya kalau beli dengan harga segini gimana untungnya? Bagaimana dia bisa melakukan restrukturisasi dan IPO berikutnya dengan menghasilkan keuntungan. Jawan seorang investor luar negeri bilang gini kepada saya, bahwa memang sekarang ini kelihatannya mahal tapi 2-3 tahun setelah ini apa yang kita beli sekarang mahal ini akan kelihatan murah.

Pak Widja “Jadi bagaimana kita membedakan bahwa awal ini awal dari bubble?”  Nah, ini berbeda dengan bubble yang lalu berbeda dengan sebelum 97-98 karena pada saat 97 98 itu ekonomi kita tidak di dukung oleh suatu keadaan ekonomi makro ekonomi yang secara fundamental strong (kuat). Sekarang kalau kita lihat topografi daripada ekonomi kita itu 60% adalah domestic demand. UKM kita itu kuat sekali. UKM kita menyumbang 60% dari produk domestic bruto kita. Waktu kemarin global financial crisis di 2008 dimana eksternal demand itu turun, ternyata Indonesia masih bisa bertumbuh dengan 4%. Berarti ekonomi kita ini bukan ekonomi yang abal-abal. Bukan ekonomi yang hanya bisa hidup karena ada demand dari luar negeri. Ternyata ekonomi kita itu bisa kuat dan tumbuh karena memang ada demand. Ada permintaan yang sangat besar, 240 juta rakyat Indonesia membentuk pasar yang sangat-sangat resilient (tangguh).

Kemarin World Bank mengeluarkan report, bahwa dalam 7 tahun terakhir Indonesia berhasil menambah 50 juta angkatan middle class (kelas menengah) atau middle income population yang naik kelas dari low income ke middle income. Berarti itu setiap tahun 7 juta masyarakat Indonesia yang naik kelas dari pendapatan rendah ke pendapatan menengah.  Nah kalau naik kelas itu tiba-tiba demand mereka terhadap quality education, quality healthcare, entertainment, dll itu makin tinggi. Dulu itu mereka hidup hanya dengan 2 dollar atau 3 dollar perhari tapi sekarang ini mereka sudah tiba-tiba punya disposable income untuk beli motor misalnya. Makanya penjualan motor 7 juta unit tahun lalu. Naik 40% dan mobil naik 70% dari tahun sebelumnya.

Tiba-tiba mereka mempunyai uang lebih untuk beli handphone. Hampir semua di Indonesia, di Jakarta terutama punya handphone. Malah Blackberry sekarang ada 4 juta pengguna Blackberry di Indonesia. Melebihi pengguna Blackberry di Amerika yang sudah melebihi 12 tahun diperkenalkan disana hanya memiliki 3,7 juta pengguna. Pak Widja bercanda “Jadi kalau video ini masuk youtube dapat fee dari Blackberry?” Hehe.. ya memang sudah bagian dari paket itu. Hehehe… Dulu Nokia, tapi karena Nokia lagi turun. Habis ini kita iklan aqua. Hahahaha…

Jadi kalau kita lihat produk-produk consumer goods itu melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat-sangat menarik gitu. Karena disposable incomenya naik dan ternyata, atau gini aja lah kalau kita turun di cengkerang menuju Energy Building disini kita akan melewati 14 mall, shopping mall baru yang baru dibangun 2 tahun terakhir. Poin saya adalah 14 shopping mall ini tidak pernah kosong, penuh terus. Isinya istri kita atau anak-anak kita yang pada belanja gitu. Toko-toko itu gak mungkin ada disana kalau tidak ada yang belanja. Walaupun rata-rata yang beli sedikit tapi pasti food courtnya penuh dan pasti yang berkaitan dengan entertainmentnya laku. Karena mereka memang punya disposable income.

Jadi I don’t believe there is a bubble in that sense ya. In that sense tidak menunjukkan bubble, tapi memang perilaku dari pada investor-investor ini, mengingat kita pada perilaku mereka pada tahun 1997 dimana aset itu makin lama harganya makin membumbung tinggi dan kita sebagai investor kadang-kadang bertanya apakah ini terlalu bubble. Disini adalah marketnya sellers atau sering kita sebut sellers market. Semua yang memiliki aset akan meminta harga yang paling tinggi dan melakukan lelang. Dulu-dulu gak pernah ada lelang. Jadi selalu di approach bilateral tapi sekarang melalui lelang.

Ada yang bertanya dari audiens “Pak Sandi, kalau menurut consumer memang bubble tapi bagaimana dengan properti?” Properti kalau dilihat dari value, properti di Indonesia itu masih undervalue dibandingkan transaksi transaksi serupa di other parts of south east asia. Jadi ada 1 hal yang tidak diciptakan lagi, yaitu tanah dan tanah itu becoming very scarce, coba saja lihat Jakarta. Ini mertua saya sudah 50 tahun main properti dan invest di properti gak pernah rugi. Karena memang propertinya itu-itu aja. Tanahnya itu-itu saja dan harganya naik terus.

Jadi di fase seperti ini baik itu properti dan lain-lain, pembeli atau investor itu mesti melihat bagaimana hands on approach di setiap aset yang diakuisisi. Tidak bisa hanya didiamkan untuk manajemen yang mengelola tapi dia harus hands on dan bagaimana menambah nilai dari bisnis yang mereka akuisisi.

Jadi inilah 3 fase evolusi yang ada, sayangnya kita berada di fase ketiga dan ya kadang-kadang kita juga melihat bahwa memang kedepan ini perlu suatu ketajaman visi untuk merealisasikan bagaimana investasi ini mendatangkan keuntungan. Pak Widja “Mas Sandi ini menarik, barangkali ini pertama kali ini saya melihat. I think ini original ya? You created yourself? Karena fase 1, 2, dan 3 ini valid. Saya ingin tahu apakah ada fase 4 dan bagaimana fase 4?” Saya melihat sebagai investor yang membedakan kita dengan yang lain adalah melihat kedepan. Fase 4 saya rasa aset-aset yang maturing seperti consumer, sector raw material, spt coal dll ini akan menjadi komoditas dan tidak akan banyak lagi kegiatan investasi dan M&A kecuali itu berhubungan dengan restrukturisasi daripada bisnis mereka ke depan.

Tapi yang saya nanti investor-investor ini akan berubah melihat trend-trend pariwisata misalnya, atau sektor-sektor yang belum tersentuh seperti pariwisata, education, dan healthcare. Healthcare akan besar sekali karena middle class yang baru tumbuh ini meminta kepada pasar untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik. Saya lihat sektor pariwisata, pendidikan, kesehatan dan industri kreatif yang akan muncul di fase keempat. Wavenya udah bicara bukan hanya hard asset tapi intellectuals asset. Disitu lebih membutuhkan suatu kreatifitas daripada investor dan managementnya.

Artikel lanjutan :

1. Value Creation – Hands on Approach

2. Case Study Adaro Energy

3. Case Study Tower Bersama

Tagged , , , , ,